Gerakan Nasional Aktivis ’98 Usulkan Korban Tragedi Trisakti Jadi Pahlawan Nasional

Politik523 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM – JAKARTA – Gerakan Nasional Aktivis ’98 mengusulkan empat mahasiswa Universitas Trisakti yang gugur dalam peristiwa 12 Mei 1998 ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Usulan itu disampaikan bertepatan dengan peringatan 28 tahun Reformasi 1998.

Koordinator Gerakan Nasional Aktivis ’98, Anton Aritonang, mengatakan para mahasiswa korban Tragedi Trisakti memiliki peran penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

“Kami mendesak agar 4 mahasiswa Trisakti yang jadi korban 12 Mei 1998 itu jadi pahlawan nasional tahun ini. Itu yang lebih penting,” kata Anton dalam keterangannya pada Selasa, 12 Mei 2026.

Menurut Anton, peristiwa Tragedi Trisakti menjadi salah satu titik penting yang membuka jalan Reformasi 1998 dan perubahan politik nasional.

“Karena apapun ceritanya, 4 orang ini adalah korban tragedi Trisakti, mahasiswa Trisakti. Itu menjadi pembuka tabir demokrasi,” ujarnya.

Dalam pernyataan sikapnya, Gerakan Nasional Aktivis ’98 menyebut gerakan mahasiswa 1998 lahir sebagai respons terhadap situasi politik, ekonomi, dan sosial pada masa itu. Mereka menilai Reformasi menjadi momentum untuk memperkuat demokrasi, supremasi hukum, serta mendorong pemerintahan yang bersih dari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).

Kelompok itu juga mengingat kembali berbagai peristiwa menjelang Reformasi, seperti aksi mahasiswa, penculikan aktivis pro-demokrasi, penembakan mahasiswa, dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 1998.

“Gerakan Reformasi 1998 adalah panggilan nurani kolektif bangsa untuk mengembalikan kedaulatan rakyat, keadilan sosial, dan supremasi moral sesuai amanat UUD 1945,” demikian bunyi pernyataan mereka.

Selain mendorong penetapan pahlawan nasional bagi korban Trisakti, Gerakan Nasional Aktivis ’98 menyatakan akan menggelar konsolidasi pada 20 hingga 21 Mei 2026 untuk memperingati Reformasi.

Anton mengatakan kegiatan tersebut dimaksudkan sebagai refleksi terhadap perjalanan Reformasi dan kondisi demokrasi Indonesia saat ini.

“Kami akan konsolidasikan lagi kekuatan. Artinya bagaimana semangat Reformasi tetap menjadi pengingat bagi perjalanan bangsa ke depan,” kata dia.

Ia menambahkan gerakan tersebut akan tetap bersifat independen dan tidak melibatkan kepentingan partai politik.

Loading