PATRAINDONESIA.COM (PALANGKA RAYA) – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan pada umumnya di Kalimantan bukan takdir alam. Di puncak kemarau, api justru dinyalakan oleh tangan-tangan yang sengaja.
Kabut asap kembali mengepung. Ruang napas warga terampas. Sekolah tutup, ekonomi lumpuh, dan langit Kalteng berubah kelabu.
Dalam situasi ini negara diuji. Aparat penegak hukum wajib bertindak cepat dan tanpa pandang bulu. Pelaku Karhutla harus dijerat tuntas hingga ke pemodal. Proses hukum harus transparan dan sanksi maksimal ditegakkan untuk menimbulkan efek jera.
“Jika hukum tumpul ke atas, Karhutla tidak akan pernah padam. Negara harus hadir dan menunjukkan wibawanya,” tegas Ketua LSM Forum Kalimantan Membangun (FKM) Kalteng Supriady Natae di Palangka Raya, Minggu (13/09/2026).
Penindakan tanpa pencegahan adalah pekerjaan sia-sia. Pemerintah harus memperkuat patroli terpadu, membuka akses data titik api ke publik, dan melakukan edukasi masif. Lahan-lahan rawan juga wajib diawasi ketat.

Ia juga menekankan pentingnya pemetaan dini terhadap masyarakat yang rentan diprovokasi. Kelompok dengan SDM terbatas kerap dijadikan sasaran oknum yang berkepentingan dengan Karhutla.
Sinergi pemerintah daerah, TNI, Polri, dan masyarakat menjadi syarat mutlak agar Karhutla tidak kembali menjadi bencana tahunan.
Dampaknya telah melewati ambang batas. Selain memicu ISPA, kabut asap membahayakan penderita jantung, asma, dan penyakit lainnya. Pada kualitas udara terburuk, kabut asap dapat merenggut nyawa.
“Ini pembiaran yang sistematis. Setiap tahun rakyat Kalimantan dicekik asap, sementara upaya pencegahan jalan di tempat,” kritik Supriady Natae yang akrab disapa Bang Nalau itu.
Kekecewaan publik juga muncul dari bawah. Sejumlah warga menilai penanganan Karhutla yang berulang membuat kepercayaan terhadap negara terkikis.
“Negara saat ini persis seperti sinema kerajaan di YouTube. Penuh trik dan intrik kepentingan. Tidak tahu malu sama rakyat,” ujar warga Palangka Raya inisial Jn.
Senada, Senin (14/09/2026), warga Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur (Bartim), inisial Nr, khawatir pola yang sama terulang saat musim penghujan.
“Setelah Karhutla, nanti muncul drama banjir, BBM langka, Sembako naik. Elite politik semakin hari menampakkan kebodohan dan tidak tahu malunya lagi sama rakyat,” ucapnya.
Kepercayaan publik terhadap negara terus terkikis. Tiap musim kemarau dan bencana banjir datang, pertanyaan yang sama muncul, sejauh mana negara serius melindungi warganya dari Karhutla dan kemungkinan bencana banjir. (Amar Iswani/Red/PI).
![]()







