PATRAINDONESIA.COM – JAKARTA – Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) 92 memandang eskalasi konflik geopolitik global sebagai faktor yang turut memengaruhi stabilitas sosial di dalam negeri. Ketegangan internasional, termasuk serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, dinilai telah memicu tekanan geoekonomi yang berdampak luas.
Ketua Umum SBSI 92, Sunarti, menyatakan bahwa dinamika global tersebut berkelindan dengan persoalan domestik yang kian kompleks. Dalam beberapa waktu terakhir, ruang publik di Indonesia diwarnai oleh meningkatnya disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian.
“Situasi ini menjadi tantangan serius bagi kohesi sosial, terutama ketika masyarakat dihadapkan pada arus informasi yang tidak seluruhnya dapat diverifikasi,” ujar Sunarti dalam keterangan tertulis, Rabu, di Jakarta.
Ia menyoroti kecenderungan penyebaran informasi yang tidak akurat semakin terstruktur dan berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Fenomena ini, menurut dia, tidak hanya mengganggu stabilitas sosial, tetapi juga dapat menghambat pelaksanaan kebijakan strategis.
Sejumlah isu yang berkembang di ruang publik, seperti polemik ijazah mantan Presiden Joko Widodo dan kasus kekerasan terhadap aktivis, disebut telah menyita perhatian masyarakat. Di sisi lain, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang tidak bertanggung jawab dinilai memperbesar potensi distorsi informasi.
Akibatnya, kata Sunarti, masyarakat berisiko kehilangan pijakan objektivitas dalam memahami persoalan. “Ketika fakta bercampur dengan spekulasi, ruang publik menjadi rentan terhadap polarisasi,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa disinformasi dan ujaran kebencian kerap digunakan sebagai instrumen politik yang memperdalam fragmentasi sosial. Dalam konteks ini, literasi informasi menjadi krusial untuk menjaga kualitas demokrasi.
Sunarti menegaskan bahwa kritik terhadap kebijakan pemerintah tetap merupakan bagian penting dari mekanisme kontrol publik. Namun, kritik tersebut perlu disampaikan secara konstruktif dan berbasis data, bukan dalam bentuk narasi yang memicu permusuhan.
Di tengah ketidakpastian global, SBSI 92 mengimbau masyarakat untuk memperkuat solidaritas sosial dan menjaga persatuan nasional. “Kehati-hatian dalam menyikapi informasi menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang menyesatkan,” kata dia.
![]()







