PATRAINDONESIA.COM, (JAKARTA) –Bencana banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan hanya membawa lumpur dan kerusakan. Di sejumlah muara dan aliran sungai, gelondongan kayu dalam jumlah besar terseret arus, memunculkan tanda tanya tentang kondisi hulu dan pengelolaan ruang yang selama ini luput dari perhatian.
Bagi Ir. R. Haidar Alwi, MT pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB banjir kali ini menjadi semacam pesan terbuka dari alam. Dalam pandangannya, negara harus hadir bukan dengan reaksi terburu-buru, tetapi lewat langkah presisi yang didasarkan pada ilmu. Ia menilai respons pemerintah di era Presiden Prabowo Subianto menunjukkan sikap itu: hadir dengan tenang, terukur, dan bertanggung jawab.
Pesan Alam di Balik Gelondongan Kayu
Haidar melihat fenomena kayu yang hanyut sebagai “riwayat ruang” yang sedang dibacakan alam. Arus banjir, menurutnya, bekerja seperti alat tulis yang mengungkap apa yang tersembunyi di hulu: lereng yang melemah, tutupan lahan yang berubah, hingga tumpukan kayu—baik legal maupun ilegal yang terbawa derasnya air.
“Alam tidak pernah menyampaikan pesannya dengan bisik-bisik,” ujar Haidar. “Air, tanah, dan kayu adalah tanda yang harus dibaca negara tanpa prasangka.”
Ia menyebut bahwa pola serat kayu, arah patahan, residu akar, kadar air, hingga rotasi batang menyimpan informasi penting mengenai asal-usul material yang terbawa banjir. Bagi Haidar, membaca tanda-tanda ekologis seperti ini merupakan langkah awal memahami apa yang sebenarnya terjadi di hulu.
Membaca Ruang Lewat Ilmu
Dalam pandangan Haidar, kayu hanyut bukan sekadar objek yang terseret banjir. Ia menyebut material itu sebagai “huruf-huruf ekologis” yang bisa mengungkap apakah pohon tumbang karena longsor, terseret banjir besar, atau merupakan bagian dari aktivitas pembalakan.
“Jika negara mau membacanya dengan sabar, setiap huruf akan menunjukkan apa yang harus diperbaiki,” katanya.
Ia menekankan bahwa sains harus menjadi dasar setiap keputusan negara, terutama dalam konteks kebencanaan yang berhubungan langsung dengan keselamatan publik.
Presisi Kapolri: Penyidikan yang Menempatkan Sains di Garda Depan
Ketika kayu gelondongan itu ramai dibicarakan publik, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo merespons dengan instruksi cepat: penyidik Dittipidter turun ke lapangan, menggandeng Kementerian Kehutanan, KLHK, BNPB, BPBD, BRIN, TNI, dan pemerintah daerah untuk melakukan analisis bersama.
Kayu-kayu tersebut tidak hanya diamankan, tetapi dianalisis spesiesnya, bentuk patahan, kadar air, dan dugaan lokasi asal berdasarkan data hidrologi, forensik kehutanan, dan citra satelit.
“Presisi bukan hanya ketepatan langkah, tetapi kejujuran negara membaca ruang,” kata Haidar Alwi. Ia memuji pendekatan Polri yang mengedepankan sains dan hukum sehingga spekulasi publik tidak berkembang liar.
Dari Hulu ke Hilir: Menata Ulang Ruang dan Tanggung Jawab Negara
Bagi Haidar, penyelidikan ini bukan semata mencari pelanggaran. Ia melihatnya sebagai kesempatan menilai ulang bagaimana hulu, sungai, dan hutan dirawat selama bertahun-tahun. Jika kayu terbawa dari tumbang alami, maka mitigasi harus diperkuat. Jika dari tumpukan legal, tata ruang perlu diperbaiki. Jika dari aktivitas ilegal, negara wajib memperketat pengawasan.
“Setiap kayu hanyut adalah fragmen masa lalu. Ketika negara menggabungkannya, negara sedang menulis ulang masa depannya,” ujarnya.
Haidar menekankan bahwa keberlanjutan ruang hidup sangat tergantung pada kepemimpinan yang peka kepemimpinan yang membaca tanda-tanda alam sebelum bencana terulang.
Era Prabowo dan Kepemimpinan yang Peka terhadap Ruang
Ia menilai respons pemerintah saat ini menunjukkan kehadiran negara yang lebih sensitif terhadap isu ekologis dan keselamatan warga.
“Selama negara memelihara rasa, selama kepemimpinan menjaga kejujuran, dan selama sains mendampingi setiap keputusan, bangsa ini tidak akan tersesat oleh bencana,” pungkas Haidar Alwi.
![]()







