Sandri Rumanama Dorong Penguatan UKW, Pers Diminta Tetap Konsisten Jaga Demokrasi

Nasional219 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM, (JAKARTA) – Upaya memperkuat peran jurnalis di tengah perubahan lanskap media digital terus dilakukan. Komunitas Kontra Narasi menggelar Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sekaligus program penguatan kapasitas jurnalis dan kreator konten digital di Jakarta Selatan.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Kamis–Jumat (5–6 Februari 2026), di Sofyan Hotel, Tebet, ini diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai daerah dan latar belakang media. Rangkaian acara dibagi dalam dua tahap, yakni diskusi pembuka pada hari pertama dan pelatihan teknis pada hari kedua.

Founder Kontra Narasi Sandri Rumanama menilai, keberadaan pers yang merdeka menjadi penopang utama demokrasi. Menurutnya, pembatasan terhadap kebebasan pers akan berdampak langsung pada kualitas kehidupan publik.

“Pers adalah pilar demokrasi. Ketika pers dibungkam, itu menjadi tanda bahaya bagi demokrasi. Kita bisa melihat di berbagai negara, ketika kebebasan pers dipersempit, yang terancam bukan hanya media, tetapi juga hak publik untuk mendapatkan informasi,” ujar Sandri saat membuka kegiatan, Kamis (5/2/2026).

Sandri menegaskan, pers tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga menjalankan peran kontrol terhadap kekuasaan dan menjadi saluran aspirasi masyarakat. Karena itu, independensi media disebutnya sebagai prasyarat penting bagi demokrasi yang sehat.

Selain isu kebebasan pers, Sandri turut menyoroti pentingnya supremasi sipil. Ia menyebut, praktik jurnalisme yang profesional dan berintegritas berkontribusi dalam memastikan penyelenggaraan kekuasaan tetap berpijak pada prinsip demokrasi dan hukum.

“Supremasi sipil tidak bisa dilepaskan dari peran pers. Media yang kritis, berimbang, dan berpihak pada kepentingan publik akan membantu memastikan bahwa kekuasaan berjalan dalam koridor hukum dan demokrasi,” kata Sandri.

Di sisi lain, ia menekankan perlunya jurnalis menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. Transformasi digital, menurut Sandri, menuntut jurnalis memiliki keterampilan tambahan tanpa mengorbankan nilai-nilai dasar jurnalistik.

“Tren informasi sekarang bergerak kuat ke arah audio visual. Karena itu, jurnalis perlu memiliki kemampuan tambahan sebagai kreator konten, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik,” ujarnya.

Materi pelatihan mencakup produksi konten audio visual serta strategi distribusi informasi di berbagai platform digital agar lebih mudah menjangkau audiens.

“Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas jurnalis agar mampu menjangkau audiens yang lebih luas dengan format yang relevan,” tandas Sandri.

Kegiatan ini juga menghadirkan pemateri dari sejumlah lembaga, di antaranya TVRI, Komisi Informasi Pusat, dan Humas Polri. Para narasumber membahas praktik jurnalisme, keterbukaan informasi publik, hingga tantangan komunikasi institusional di era digital.

Melalui kegiatan ini, Kontra Narasi berharap jurnalis tidak hanya semakin adaptif secara teknis, tetapi juga tetap konsisten menjalankan fungsi pers sebagai pilar demokrasi di tengah dinamika media yang terus berubah.

Loading