MBG di Kedondong Disorot, Makanan Bermasalah dan Sistem Dipertanyakan

Patra News978 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM (Pesawaran) – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pesawaran kembali menuai sorotan. Kali ini, dugaan pelanggaran muncul pada sistem pendistribusian serta kualitas makanan yang dinilai tidak layak konsumsi di beberapa titik.

Di Desa Sukamaju, Kecamatan Kedondong, pendistribusian menu disebut menggunakan sistem “rapel”, di mana makanan yang seharusnya dikonsumsi pada hari berjalan justru dikirim sehari sebelumnya, yakni pada Jumat untuk konsumsi hari berikutnya. Praktik ini dinilai berpotensi menyalahi standar distribusi makanan bergizi yang mengutamakan kesegaran.

Selain itu, nominal anggaran makanan diduga tidak transparan karena tidak mencantumkan harga dalam paket yang diterima. Kondisi makanan pun memicu keluhan, di antaranya buah klengkeng yang diduga sudah busuk dan berair, serta roti yang keras dan diduga berjamur.

Dapur MBG di Desa Sukamaju tersebut berada di bawah tanggung jawab Kepala SPPG, Ismail Adhan. Sementara itu, Kepala Chef MBG, Yudi, saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa untuk makanan kering bukan menjadi tanggung jawabnya, melainkan pihak lain yang disebut sebagai “ahli gizi”.

“Wali murid yang mana bang, dari sekolah mana,” ujarnya.

Yudi juga mengakui bahwa roti yang didistribusikan merupakan hasil rekomendasinya dari pihak penyuplai. Ia turut menyampaikan permohonan maaf kepada wali murid, dengan catatan apabila identitas pelapor dapat disampaikan. Namun demikian, ia juga mempertanyakan asal sekolah serta wali murid yang mengeluhkan kualitas makanan tersebut.

Sementara itu, Kepala MBG Ismail Adhan menyatakan bahwa ke depan pihak penyuplai yang tidak memenuhi standar tidak akan lagi direkomendasikan dan berpotensi ditutup. Ia juga menegaskan bahwa produk roti yang digunakan telah memiliki izin edar dan sertifikasi halal. Namun, saat diminta menunjukkan bukti, dokumen tersebut belum dapat diperlihatkan kepada media patraindonesia.com

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran adanya praktik yang tidak sesuai dengan tujuan utama program MBG. Yudi sendiri dinilai seharusnya fokus pada tugasnya sebagai kepala dapur, bukan terlibat dalam aktivitas yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan seperti rekomendasi penyuplai.

“Jika kerja di MBG, fokus dulu pada substansinya, sebab di dalam keringat kerja yang kalian lakukan adalah amanah untuk masa depan generasi bangsa,” ujar Nano Romansyah.

Baca juga: https://patraindonesia.com/menu-mbg-diduga-bermasalah-ayam-mentah-ditemukan-di-dua-tempat-berbeda/

Diwaktu yang sama juga menyoroti di wilayah lain, yakni di Desa Hanura, Kecamatan Teluk Pandan. Perbedaannya, jika di Kedondong ditemukan masalah pada makanan kering, di Teluk Pandan justru terjadi pada makanan basah yang juga diduga tidak memenuhi standar kualitas.

“Kembali lagi, hanya ucapkan permintaan maaf, sekarang kami butuh bukti nyata dan tindakan tegas dari semua yang memiliki kewenangan dan kebijakan untuk memberikan perlindungan kepada generasi bangsa,” tutup Nano Romansyah.

Sejumlah pihak mendesak agar pelaksanaan program MBG di Kabupaten Pesawaran ditinjau ulang secara menyeluruh. Evaluasi dianggap penting guna memastikan program yang bertujuan meningkatkan gizi anak justru tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan pribadi, serta tetap berpihak pada kepentingan penerima manfaat.(Asen/Red/PI).

Loading