PATRAINDONESIA.COM (Tanggamus) – Di tengah riuh polemik yang sempat menghangatkan jagat maya, kehadiran seorang ibu dari tanah rantau bak embun yang menetes di pagi hari. Dialah Elwati, ibu kandung siswa SDN 1 Pekon Lengkukai, Kecamatan Kelumbayan Barat, Kabupaten Tanggamus, yang sehari-hari bekerja di luar negeri.
Dengan hati penuh ketulusan, ia pulang kampung dan pada Rabu, 20 Agustus 2025 mendatangi SD N 1 Lengkukai demi menjernihkan kabut persoalan video interogasi anaknya yang sempat viral.

Dalam pertemuan dengan pihak sekolah, komite, dan tokoh masyarakat, Elwati menyampaikan permohonan maaf sekaligus menyerahkan surat pernyataan resmi. Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut bukan kesalahan sekolah, melainkan kelalaian keluarga, serta memastikan tidak akan membawa masalah ini ke ranah hukum.
Ia juga meminta agar video yang beredar segera dihentikan peredarannya, demi menjaga psikologis anak dan mencegah salah tafsir di mata publik.
“Saya mohon dengan sangat, kepada siapa pun yang tidak punya kepentingan agar menarik kembali video tersebut. Jangan sampai anak saya menjadi korban salah paham,” ujarnya dengan nada tegas namun penuh harap.
Kepala SDN 1 Pekon Lengkukai, Aryuni, menyambut kepulangan Elwati dengan penuh rasa syukur. Ia menyebut langkah itu ibarat hujan pertama yang meredakan debu panjang.
Tokoh adat setempat, Muzani Gelar Tumenggung Sangun Kakhai bahkan menilainya sebagai obor yang menerangi jalan gelap, agar masyarakat tidak terjebak dalam prasangka.
Sehari setelahnya, pada Kamis, 21 Agustus 2025, pihak wali kelas menyampaikan terima kasih atas kehadiran orang tua murid. Melalui kepala sekolah, pihak sekolah juga menyampaikan permohonan maaf apabila peristiwa tersebut sempat mengganggu aktivitas keluarga.
“Atas nama lembaga sekolah meminta maaf kepada Elwati Ibu kandung siswa atas kejadian yang terjadi bebeberapa waktu yang lalu Di SDN 1 Lengkukai,” ungkapnya.
“Kami menyayangkan kejadian ini. Peristiwa tersebut datang tiba-tiba dan tanpa kami rencanakan. Kami berharap semua pihak dapat memakluminya,” ujar Kepala Sekolah.
Peristiwa ini menjadi cermin berharga di era media sosial: bahwa tidak semua hal pantas disebarkan tanpa memahami duduk perkara. Anak-anak, yang masih rapuh, seharusnya menjadi yang paling dilindungi dari sorotan dan salah tafsir publik.
Kini, setelah sang ibu pulang dari rantau membawa klarifikasi dan ketulusan, suasana di SDN 1 Lengkukai diharapkan kembali teduh. Seperti pohon yang menghijau kembali setelah badai, anak-anak bisa tumbuh dalam damai, naungan kasih, dan bimbingan. (Asen/Red/PI).
![]()











