PATRAINDONESIA.COM (Jakarta) – Memperingati Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni 2026, Serikat Pengemudi Transportasi Indonesia (SEPETA) menyerukan agar nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya menjadi simbol dan slogan seremonial, tetapi diwujudkan secara nyata dalam kebijakan negara yang berpihak kepada rakyat pekerja, termasuk jutaan driver online roda dua, roda empat, dan kurir di seluruh Indonesia.
Menurut SEPETA, peringatan Hari Lahir Pancasila merupakan momentum refleksi bagi bangsa Indonesia untuk menilai sejauh mana cita-cita keadilan sosial, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan kesejahteraan rakyat telah diwujudkan dalam kehidupan masyarakat.
Ketua Umum SEPETA, Iwan Setiawan, menegaskan bahwa hingga saat ini para pekerja platform digital masih menghadapi berbagai persoalan mendasar, mulai dari ketidakpastian pendapatan, minimnya perlindungan sosial, tidak adanya kepastian hukum dalam hubungan kerja, hingga berbagai kebijakan aplikasi yang dinilai semakin membebani driver.
“Ketika jutaan driver online bekerja dari pagi hingga malam tanpa kepastian pendapatan yang layak, tanpa perlindungan sosial yang memadai, serta terus dibebani berbagai potongan dan program aplikasi yang merugikan, maka sila kelima Pancasila, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, masih jauh dari kenyataan,” ujar Iwan Setiawan dalam pernyataannya.
SEPETA menegaskan bahwa driver online merupakan bagian dari rakyat pekerja Indonesia yang memiliki hak untuk memperoleh perlindungan negara. Perkembangan teknologi dan digitalisasi transportasi, menurut organisasi tersebut, tidak boleh menjadi sarana eksploitasi modern yang hanya menguntungkan perusahaan aplikasi, tetapi harus mampu meningkatkan kesejahteraan seluruh pihak yang terlibat.
Dalam momentum Hari Lahir Pancasila 2026, SEPETA menyampaikan lima tuntutan utama yang disebut sebagai “Tuntutan Politik Ojol” kepada pemerintah dan perusahaan aplikasi.
Pertama, SEPETA mendesak pemerintah untuk segera menjalankan kebijakan pembatasan potongan aplikasi sebesar 8 persen pada seluruh layanan transportasi online roda dua maupun roda empat, sehingga 92 persen pendapatan dapat menjadi hak driver.
Kedua, organisasi tersebut menuntut penghapusan berbagai program yang dinilai eksploitatif dan merugikan driver, seperti program hemat berbayar, langganan prioritas order, slot area, hub area, dan berbagai sistem lain yang dianggap menciptakan diskriminasi antar-driver serta menurunkan pendapatan pengemudi.
Ketiga, SEPETA meminta penghentian praktik suspend dan pemutusan kemitraan secara sepihak oleh perusahaan aplikasi. Organisasi ini menilai bahwa setiap driver harus mendapatkan hak pembelaan, transparansi proses, serta perlindungan hukum terhadap keputusan yang diambil oleh sistem algoritma aplikasi.
Keempat, SEPETA menuntut adanya jaminan kecelakaan kerja dan santunan kematian yang ditanggung oleh perusahaan aplikasi, disertai dukungan negara berupa subsidi bahan bakar minyak (BBM), jaminan kesehatan, dan jaminan hari tua bagi driver online dan kurir yang berperan penting dalam sistem transportasi dan distribusi nasional.
Kelima, SEPETA mendesak pemerintah untuk segera menerbitkan regulasi perlindungan pekerja platform digital yang mengakui driver online dan kurir sebagai pekerja platform yang memiliki hak atas penghasilan layak, perlindungan kerja, kebebasan berserikat, serta hak untuk melakukan perundingan bersama, dengan tetap mempertahankan fleksibilitas kerja yang menjadi karakteristik utama pekerjaan berbasis platform digital.
SEPETA juga mengajak seluruh driver online di Indonesia untuk memperkuat persatuan dan organisasi perjuangan secara demokratis melalui serikat pekerja yang independen, militan, patriotik, dan demokratik guna memperjuangkan hak-hak pekerja platform digital.
“Pancasila tidak boleh hanya menjadi slogan upacara. Pancasila harus hadir dalam kebijakan negara, berpihak kepada rakyat kecil, dan melindungi seluruh pekerja Indonesia, termasuk driver online yang setiap hari menjadi bagian penting dari roda perekonomian nasional,” tegas SEPETA.
Menutup pernyataannya, SEPETA menyatakan bahwa Hari Lahir Pancasila harus menjadi momentum kebangkitan driver online Indonesia untuk memperjuangkan keadilan, kesejahteraan, dan perlindungan yang lebih baik.
“Pancasila harus menjadi alat persatuan dan perjuangan rakyat, bukan sekadar simbol kekuasaan negara.” (Lucia/Red/PI).
![]()







