Hormati Bulan Kemerdekaan, Sekjen PATRA Ingatkan Ojol Tak Terprovokasi Jelang HUT RI ke 81

Patra News2716 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM – JAKARTA – Bulan kemerdekaan tak hanya soal memasang bendera atau menggelar berbagai perayaan. Bagi Sekretaris Jenderal Paguyuban Transportasi Indonesia (PATRA Indonesia) Irfan Ardhiyanto, Agustus juga menjadi momentum untuk merawat persatuan di tengah masyarakat.

Irfan secara khusus mengingatkan masyarakat dan pengemudi ojek online agar tidak mudah terseret informasi maupun ajakan yang berpotensi memicu konflik. Ia meminta para pengemudi ojol tetap tenang dan tidak mengambil sikap berdasarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

BACA JUGA :

PatraIndonesia.Com dan BPJS Ketenagakerjaan Bekerjasama Berikan Perlindungan Optimal bagi Pekerja Mandiri

Pesan itu disampaikan menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. Menurut Irfan, suasana bulan kemerdekaan semestinya dijaga agar tetap damai dan tidak diwarnai tindakan yang dapat memperlebar perpecahan.

“Kami mengajak seluruh masyarakat dan rekan-rekan driver ojol untuk tidak terpancing informasi yang tidak jelas kebenarannya maupun ajakan yang bisa menimbulkan konflik. Mari kita hormati bulan kemerdekaan dengan menjaga persatuan dan kedamaian,” ujar Irfan Ardiyanto, Sabtu (08/08).

Jangan Biarkan Peristiwa Lama Menjadi Bahan Provokasi

Dalam pesannya, Irfan turut menyinggung peristiwa meninggalnya Affan Kurniawan pada tahun lalu. Ia mengingatkan agar peristiwa tersebut tidak dijadikan alasan untuk memancing emosi ataupun menggerakkan massa dalam situasi yang berpotensi menimbulkan persoalan baru.

Menurut dia, sebuah peristiwa yang telah terjadi semestinya tidak ditarik menjadi bahan untuk mempertentangkan satu kelompok dengan kelompok lainnya. Terlebih, informasi yang beredar di ruang digital dapat dengan cepat menyebar tanpa selalu disertai konteks dan kepastian mengenai kebenarannya.

Irfan meminta para driver ojol tidak memberikan ruang bagi pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan isu tersebut untuk memecah solidaritas.

“Jangan sampai ada pihak yang memanfaatkan kejadian tersebut untuk memecah belah persaudaraan atau memprovokasi rekan-rekan driver ojol. Mari kita sama-sama menjaga situasi tetap aman dan menghormati proses yang berlaku,” ujarnya.

Ojol dan Arus Informasi di Ruang Publik

Pengemudi ojek online merupakan kelompok pekerja yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Mereka berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain dan berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.

Posisi tersebut, kata Irfan, membuat para driver perlu memiliki kehati-hatian ketika menerima sebuah informasi. Persoalan yang awalnya muncul di media sosial dapat dengan mudah terbawa ke ruang publik apabila informasi tersebut diterima tanpa terlebih dahulu diperiksa.

BACA JUGA : 

Ribuan Driver Ojol Bakal Gelar Aksi Demo Besar-besaran di DPR dan Istana

Karena itu, ia mendorong para pengemudi ojol untuk tetap mengutamakan profesionalisme. Persoalan yang belum terang, menurut dia, tidak semestinya diselesaikan dengan tindakan spontan yang justru dapat memperbesar masalah.

Imbauan serupa ditujukan kepada masyarakat. Informasi yang belum terverifikasi sebaiknya tidak langsung diteruskan kepada orang lain. Apalagi jika informasi tersebut mengandung ajakan, tuduhan, atau narasi yang dapat memancing kemarahan kelompok tertentu.

Sikap menahan diri, dalam konteks ini, bukan berarti mengabaikan persoalan. Sebaliknya, kehati-hatian diperlukan agar respons terhadap suatu isu tidak justru melahirkan persoalan baru.

Kemerdekaan Bukan Ruang untuk Memecah Persaudaraan

Peringatan HUT RI ke-81 menjadi konteks penting dalam pesan Irfan. Ia mengajak masyarakat melihat bulan kemerdekaan sebagai ruang untuk memperkuat kembali hubungan antarsesama, bukan memperuncing perbedaan.

Bagi komunitas pengemudi ojol, menjaga suasana kondusif juga berkaitan dengan aktivitas sehari-hari. Situasi yang aman memungkinkan para driver bekerja dan berinteraksi dengan masyarakat tanpa dibayangi ketegangan akibat isu yang belum jelas.

Irfan berharap semangat kemerdekaan tidak berhenti pada simbol. Persatuan, saling menghormati, dan gotong royong, menurut dia, perlu diwujudkan dalam sikap sehari-hari.

Ia pun kembali mengingatkan agar masyarakat tidak memberi ruang kepada provokasi, terutama yang memanfaatkan isu sensitif untuk mempertemukan kelompok yang berbeda.

“ Mari kita jadikan bulan kemerdekaan sebagai momentum memperkuat persaudaraan, saling menghormati, dan menjaga Indonesia tetap kondusif. Jangan beri ruang bagi provokasi yang dapat memecah belah kita. Persatuan adalah modal utama untuk membangun bangsa yang lebih kuat,” tutupnya.

Loading