Haidar Alwi: Persatuan Pemuda dan Polisi Adalah Kunci Sumpah Pemuda 2025

Patra News1569 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM (JAKARTA) – Momentum Sumpah Pemuda 2025 bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi refleksi tentang bagaimana generasi muda dan aparat penegak hukum bersinergi menjaga keutuhan bangsa. Tokoh nasional R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, menekankan bahwa persatuan sejati lahir dari kerja nyata, bukan hanya teks sejarah.

“Sumpah Pemuda bukan hanya tentang bersatu, tapi tentang bagaimana kita bertanggung jawab menjaga persatuan itu,” ujar Haidar Alwi.

Menurut Haidar, sinergi antara pemuda dan kepolisian adalah bentuk konkret dari Sumpah Pemuda: kombinasi energi intelektual dan disiplin hukum untuk menjaga akal sehat republik.

Dari Sumpah ke Tantangan Nyata

Tantangan bangsa kini bukan lagi penjajahan fisik, melainkan polarisasi informasi dan rendahnya literasi digital. BRIN mencatat, lebih dari 70 persen potensi konflik sosial muncul dari misinformasi, sementara laporan Kominfo menyebut 42 persen penyebar hoaks berasal dari kelompok usia 18–30 tahun. Kondisi ini menekankan peran vital pemuda dalam menjaga rasionalitas sosial bersama kepolisian.

Haidar menilai, Polri di bawah kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah bergerak ke arah modern dengan paradigma Presisi: prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan.

“Presisi bukan sekadar kebijakan, tapi metode membangun empati hukum,” kata Haidar.

Digitalisasi layanan, transparansi kanal pengaduan, dan respons cepat di lapangan menunjukkan Polri kini berperan juga sebagai lembaga edukatif. Pemuda, menurut Haidar, harus memanfaatkan ruang ini untuk menghadirkan pengetahuan dan kreativitasnya demi literasi hukum dan sosial.

“Ketika pemuda belajar dari disiplin polisi, dan polisi belajar dari idealisme pemuda, di situlah republik ini menemukan keseimbangannya, antara hukum yang berpikir dan akal yang berperilaku,” tegasnya.

Pemuda dan Polisi: Dua Sekolah Bangsa

Haidar mengibaratkan pemuda dan kepolisian sebagai dua sekolah bangsa yang berbeda namun saling melengkapi. Polisi mengajarkan disiplin, tanggung jawab, dan rasa aman; pemuda mengajarkan keberanian berpikir, kreativitas, dan empati sosial.

“Polisi menjaga hukum agar tidak kehilangan hati, pemuda menjaga moral agar tidak kehilangan arah. Keduanya jika bersatu, akan menumbuhkan bangsa yang berakal sehat,” ujar Haidar.

Contoh nyata sinergi ini terlihat di berbagai daerah melalui kegiatan literasi hukum dan sosialisasi anti-hoaks yang digelar mahasiswa bersama Bhabinkamtibmas, baik di kampus maupun desa.

“Negara ini akan maju jika hukum mampu melindungi keberanian, dan keberanian tetap menghormati hukum,” tambah Haidar.

Menjaga Ruh Sumpah Pemuda

Haidar menekankan bahwa Sumpah Pemuda adalah janji spiritual yang harus diwujudkan dalam tindakan sosial dan moral. Polisi bukan sekadar penegak hukum, tetapi juga pendidik sosial; pemuda tidak boleh berhenti pada wacana, tetapi harus terjun dalam kerja kebangsaan.

“Negara kuat bukan karena banyak aturan, tetapi karena rakyatnya sadar makna keadilan,” ujar Haidar.

“Ketika ilmu dan ketertiban berjalan beriringan, Indonesia tidak hanya aman, tapi juga berakal,” tambahnya.

Sementara itu, Sandri Rumanama, Direktur Haidar Alwi Institute, menggelar dialog publik di momentum Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2025. Diskusi ini melibatkan tokoh pemuda dan aparat kepolisian untuk menekankan peran pemuda dalam pembangunan bangsa.

“Karena setiap hal besar, pasti diawali dengan upaya kecil, langkah kecil terlebih dahulu. Jangan bermimpi membangun bangsa kalau bangun tidur saja masih siang,” kata Sandri.

Putri Khairunnisa, perwakilan KNPI, menegaskan pemuda bukan lagi sekadar segmen pasar, tetapi penopang dan penentu kesuksesan bangsa.

“Semangat kita, keinginan kita, mimpi kita semua, bukan hanya pemuda, tapi bangsa insyaAllah bisa terwujud dan terdepan. Itu yang menjadi catatan penting saya,” tandasnya.

Loading