Drama Desa Durian: Permintaan Maaf yang Menyulut, Bukan Meredam

Nasional479 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM (Pesawaran) – Desa Durian di Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, kini bukan lagi desa yang tenang dengan harum buah durian. Ia berubah jadi panggung drama politik tingkat lokal, di mana dugaan pelanggaran hukum, isu hingga curhat, berputar seperti badai. Dari permintaan maaf, curhatan sesama kades, hingga wacana penonaktifan dan penjarakan, semuanya bercampur jadi satu.

Drama ini terjadi ketika laporan warga sampai ke meja Kejaksaan Negeri (Kejari) Pesawaran. Dugaan penyimpangan yang dilayangkan warganya menjadi bola panas, bergulir hingga Inspektorat Kabupaten Pesawaran turun tangan.

Saat ini, Kades Durian tengah menjalani pemeriksaan oleh Inspektorat, sebuah tahap yang kerap menjadi pintu masuk untuk memastikan apakah ada pelanggaran administratif, penyalahgunaan kewenangan, atau bahkan indikasi tindak pidana yang harus dibawa lebih jauh.

Kepala Desa (Kades) Durian mencoba meredakan konflik. Ia mendatangi salah satu tokoh masyarakat, meminta maaf, seolah ingin menutup bara dengan segenggam air. Namun langkah itu justru dibaca sebagian warga sebagai tanda kepanikan, bukan solusi.

BACA JUGA: https://patraindonesia.com/fakta-mengejutkan-kasus-dugaan-korupsi-di-desa-durian-tanda-tangan-diduga-dipalsukan/

Ia kemudian curhat dengan kades lainnya, seakan butuh pagar pelindung di tengah badai. Namun publik sudah terlanjur gaduh. Di warung kopi, obrolan warga hanya satu: “Kalau bersalah, penjarakan!”

Tak cukup berhenti di luar, Kades Durian juga meluapkan uneg-uneg kepada perangkat desa saat rapat. Ia menggambarkan dirinya sebagai pihak yang terjolimi, korban opini yang digiring, bukan pelaku. Tapi curhat itu justru ditangkap berbeda. Ada yang kasihan, ada pula yang menilai itu sekadar upaya mencari simpati di tengah derasnya kritik.

Bahkan, di tengah derasnya tekanan, muncul kabar mengejutkan. Sang Kades disebut-sebut siap menjual mobil pribadinya, Toyota Inova, untuk keperluan pribadinya namun hal itu dicurigai sebagai salah satu cara untuk menggantikam kerugian negara jika hasil pemeriksaan nantinya menemukan angka kerugian yang besar.

“Saya mendengar pak Kades akan jual mobilnya,” ucap warga.

Langkah ini ditafsirkan beragam. Bagi sebagian warga, itu dianggap hak preogratif dirinya dan tanda itikad baik. Namun bagi pihak yang lebih keras, justru dianggap sinyal kuat bahwa ada sesuatu yang memang “bermasalah.” “Kalau benar-benar bersih, kenapa harus jual mobil?” sindir warga lainnya.

BACA JUGA: https://patraindonesia.com/desa-durian-di-persimpangan-dugaan-korupsi-tanda-tangan-misterius-dan-penantian-hukum/

Bagi warga yang sudah gerah, pemeriksaan itu dianggap pembuka jalan menuju penonaktifan atau bahkan penjara jika terbukti bersalah.

Sementara itu, bagi Kepala Desa Durian, Misriadi, mengaku bahwa kejadian tersebut sebagai bentuk kontrol dan sebagai pembelajaran agar lebih berhati-hati.

“Harapan saya ke depan adalah merubah mindset agar lebih baik dalam merealisasikan dana desa. Terima kasih juga kepada media dan Inspektorat sebagai kontrol. Ini menjadi pembelajaran agar saya lebih berhati-hati,” ungkapnya saat Inspektorat melakukan audit di kantor desa Durian.

Wacana penonaktifan sementara Kades Durian pun mulai terdengar. Bagi sebagian pihak, ini adalah opsi “jalan tengah”: mengistirahatkan jabatan kepala desa agar pemeriksaan berjalan objektif. Tapi bagi warga yang lebih keras, penonaktifan bukanlah solusi. “Kalau salah, penjarakan, jangan sekadar nonaktif!” celetuk warga saat ngopi bersama.

Kini, Desa Durian benar-benar berubah jadi panggung sandiwara. Sang kades jadi aktor utama yang terus disorot, sementara penonton adalah warga, perangkat, tokoh masyarakat, hingga aparat yang berteriak dari bangkunya masing-masing dan yang utama adalah publik menanti kejelasan dramanya di meja hijau, ada yang berharap ini semua berhenti di meja mediasi.

Tapi satu hal jelas: drama ini sudah terlanjur panjang. Dari maaf yang tak meredakan, curhat yang menambah gaduh, laporan warga ke kejaksaan, hingga pemeriksaan Inspektorat, semuanya menjadikan Desa Durian buah bibir.

Apakah pemeriksaan Inspektorat membuka jalan ke jeruji besi?Apakah sang kades akan benar-benar dinonaktifkan? Ataukah semua berakhir dengan klarifikasi dan ia kembali duduk manis di kursi kepemimpinannya?

Yang pasti, durian memang buah berduri: manis di dalam, tapi bisa melukai bila digenggam tanpa hati-hati. Begitu pula drama ini: bisa berakhir dengan manisnya rekonsiliasi, atau justru getirnya penonaktifan dan pahitnya penjara.(Asen/Red/PI).

Loading