MALAM di Rumah Tahanan Negara Kelas IIA Palangka Raya biasanya berjalan lambat. Sunyi menggantung di lorong-lorong sempit, ditemani cahaya lampu yang redup dan derit pintu besi yang sesekali beradu.
Namun Senin (6/4/2026) malam itu berbeda.
Langkah-langkah tegas memecah keheningan. Puluhan petugas berseragam bergerak serempak, menyusuri lorong sel dengan wajah serius. Tidak ada pemberitahuan. Tidak ada kesempatan bersiap. Razia datang seperti badai yang tiba-tiba cepat, senyap, dan tak terduga. Di balik operasi itu, ada satu tujuan, yaitu membersihkan.
Razia gabungan yang melibatkan TNI, Polri, dan Badan Narkotika Nasional (BNN) ini menjadi bagian dari peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62. Dipimpin oleh Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Kalimantan Tengah I Putu Murdiana bersama jajaran, termasuk Kepala Rutan Palangka Raya Wayan Arya Budiartawan, petugas menyasar Blok D dan Blok E, ini ruang-ruang yang menyimpan banyak cerita, kesalahan, dan penyesalan.
Pintu-pintu dibuka. Barang-barang diperiksa. Tangan-tangan petugas menyibak setiap sudut, memastikan tak ada yang luput.
Dari balik kasur tipis, dari sela-sela dinding, hingga sudut kamar yang nyaris tak terlihat, ditemukan benda-benda yang seharusnya tidak ada. Yakni, senjata tajam rakitan, kabel listrik, kunci inggris, kipas angin, hingga korek api.
Benda mati. Tapi menyimpan potensi bahaya.
“Tidak ada kompromi,” menjadi prinsip malam itu.
Namun, di tengah ketegangan razia, ada satu momen yang tak terduga momen yang mengubah suasana.
Langkah Wayan Arya Budiartawan tiba-tiba melambat. Ia berhenti di hadapan para warga binaan. Tatapannya tidak lagi tajam seperti saat penggeledahan. Ada sesuatu yang berbeda lebih lembut, lebih manusiawi.
Ia tidak sedang mencari barang. Ia sedang mencari celah untuk bicara.
“Pernah dengar kata-kata ini?” tanyanya pelan.
Beberapa warga binaan menunduk. Sebagian menatap kosong.
Lalu ia mengutip seorang filsuf kuno, Epictetus:
“Menerima keadaan tidak berarti menyerah, tapi mengerti jalan terbaik untuk maju.”
Kalimat itu sederhana. Tapi di ruang yang dipenuhi orang-orang yang sedang menjalani hukuman, kalimat itu terasa berat sekaligus menenangkan.
Beberapa wajah berubah. Ada yang terdiam lebih lama. Ada yang menghela napas pelan.
Di tempat seperti ini, banyak orang merasa hidupnya berhenti. Terjebak pada kesalahan masa lalu. Terjebak pada penyesalan yang tak bisa diulang.
Namun malam itu, ada pesan yang diselipkan di antara razia dan ketegasan: bahwa hidup belum selesai. Bahwa jeruji bukan akhir.
Wayan berbicara tentang perubahan. Tentang keberanian untuk bangkit. Tentang pentingnya mengikuti program pembinaan, bukan sekadar menjalani hari demi hari.
“Di sini kalian belajar. Bukan dihukum saja,” ucapnya.
Di luar, razia terus berjalan. Barang-barang ilegal dikumpulkan untuk dimusnahkan. Sistem diperketat. Pengawasan akan ditingkatkan. Tapi di dalam, sesuatu yang lain sedang terjadi sesuatu yang tak terlihat, tak bisa disita, dan tak bisa dimusnahkan.
Malam itu, Rutan tidak hanya dibersihkan dari benda-benda terlarang. Tapi juga disentuh oleh upaya membersihkan sesuatu yang lebih dalam: cara berpikir, cara memandang hidup, dan keberanian untuk berubah.
Di balik pintu-pintu besi yang kembali terkunci, mungkin tidak semua orang langsung berubah. Namun setidaknya, ada satu kalimat yang tertinggal.
Satu kalimat yang mungkin akan terus terngiang di kepala mereka, bahkan saat lampu-lampu mulai dipadamkan. Bahwa menerima bukan berarti menyerah. Dan selalu ada jalan untuk kembali menjadi manusia yang utuh. (*)
![]()

