Way Ratai: Menu MBG Disorot Orang Tua, Penyelenggara Klaim Sesuai Anggaran

Pendidikan496 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM (Pesawaran) – Pelaksanaan Program Makanan Bergizi (MBG) SPPG Wates dari Yayasan Menara Tunggal Al Iman di Kecamatan Way Ratai, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, menuai sorotan dari sejumlah orang tua murid.

Program yang dilaksanakan pada Senin (23/02/2026) tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan konsep makanan bergizi sebagaimana tujuan awal program pemerintah.

Menu MBG yang dibagikan kepada peserta didik tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) berupa serundeng (abon) roti dan tiga butir buah kurma. Menu ini dibagikan kepada seluruh siswa penerima manfaat di wilayah tersebut.

Sejumlah orang tua murid mengaku kecewa dengan menu yang diterima anak-anak mereka. Mereka menilai makanan tersebut lebih menyerupai jajanan ringan dibandingkan makanan bergizi yang mampu memenuhi kebutuhan nutrisi harian peserta didik.

“Kalau hanya serundeng roti dan tiga butir kurma, menurut kami itu lebih seperti jajanan,” ujar salah satu orang tua murid yang berasal dari Desa Way Urang.

Selain menyoal kualitas dan kandungan gizi, transparansi anggaran juga menjadi perhatian. Beberapa orang tua murid mempertanyakan apakah menu MBG tersebut sudah sebanding dengan nominal biaya yang telah ditetapkan dalam program MBG.

“Kami tidak tahu pasti berapa anggaran per porsi MBG. Tapi kalau melihat menunya, kami jadi bertanya-tanya apakah harganya sudah sesuai atau tidak,” kata orang tua murid lainnya yang berasal dari Desa Wates.

Sementara itu terpisah dari desa lainnya pun ikut mengkritisi dengan nada yang menyanjung.

“Ini namanya MBG kecamatan mewah banget ya, kalah kecamatan yang lain, hanya di Kecamatan Way Ratai yang komplit MBGnya,” ujar warga dari Desa Bunut.

Menanggapi kritik dan pertanyaan tersebut, pihak MBG saat dikonfirmasi menyampaikan klarifikasi. Menurut penyelenggara, menu MBG yang beredar dan terlihat dalam dokumentasi foto telah sesuai dengan perencanaan dan anggaran yang ditetapkan.

Pihak MBG menegaskan bahwa makanan yang dibagikan telah dibenarkan secara administrasi dan perhitungan harga. Mereka menyebutkan bahwa penambahan satu item makanan akan berdampak pada kenaikan biaya (over budget ) dan berpotensi menyebabkan kelebihan pembelian di luar anggaran yang telah ditentukan.

“Ya benar sekali bang, tiga item. Bervariasi bugged nya. Dalam satu Minggu hitungannya nantinya nominal 10 ribu. Sudah sesuai karena semua pesanan harga mahal,” ungkapnya.

“Kami bingung juga mau dikasih apa sampai sore dan saya maksimalkan berikan itu. Jangan sampai membeli barang lebih dari 10 ribu (over budget),” ujar Alpandi.

Terkait kualitas, pihak MBG juga tetap mengedepankan kualitas prodak agar tetap terjaga dengan prosedur yang sesuai.

Meski demikian, sejumlah orang tua murid berharap agar pihak terkait dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG, khususnya terkait kualitas menu makanan. Mereka menilai keberhasilan program tidak hanya diukur dari kepatuhan terhadap anggaran, tetapi juga dari manfaat nyata bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Para orang tua juga mendorong adanya keterbukaan informasi mengenai standar gizi, komposisi menu, serta besaran anggaran MBG agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Program MBG sendiri bertujuan untuk meningkatkan asupan gizi peserta didik guna menunjang kesehatan, konsentrasi belajar, dan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, masyarakat berharap pelaksanaannya di lapangan benar-benar selaras dengan tujuan tersebut dan mampu memberikan dampak positif bagi generasi muda.(Asen/Red/PI).

Loading