PATRAINDONESIA.COM (Pesawaran) – Warga Desa Way Urang, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Langsung, kini semakin gelisah menyusul adanya dugaan praktik pengecoran dan penimbunan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite yang dilakukan oleh seorang oknum pegawai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) setempat.
Menurut warga, aktivitas pengecoran BBM itu diduga dilakukan pada malam hari untuk menghindari perhatian publik.
Prosesnya disebut menggunakan sebuah mobil berwarna putih yang beberapa kali terlihat mengisi BBM dalam jumlah besar.
Warga menyebut bahwa BBM tersebut kemudian dibawa dan ditimbun di rumah terduga pelaku di kawasan Desa Way Urang dan disalurkannya pada pagi hingga sore hari.
Beberapa warga juga mengaku sering melihat sebuah mobil pickup datang ke kediaman terduga pelaku untuk mengambil BBM yang telah disimpan. Aktivitas ini, menurut warga, bukan hanya terjadi sekali atau dua kali, tetapi sudah berlangsung cukup lama.
Mereka bahkan menyebut volume transaksi diduga mencapai hingga tiga ton BBM per hari, meski angka tersebut masih perlu diverifikasi oleh pihak berwenang.
Situasi ini menimbulkan keresahan yang semakin meluas. Selain dugaan pelanggaran terhadap sistem distribusi BBM bersubsidi yang semestinya diprioritaskan untuk masyarakat, penimbunan bahan bakar dalam jumlah besar di lingkungan pemukiman dinilai sangat membahayakan.
Warga takut apabila terjadi kebakaran, api bisa dengan cepat merembet ke rumah-rumah di sekitarnya mengingat struktur bangunan yang berdekatan dan padat penduduk. Mereka juga menilai keberadaan BBM dalam jumlah besar di area permukiman tidak memiliki standar keamanan, penyimpanan, dan pengawasan yang jelas.
“Kami semakin takut. Ini bukan barang mainan. Sekali terjadi kebakaran, habis semua rumah di sini,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namannya, Sabtu (06/12/2025).
Merespons keresahan tersebut, warga meminta Kementerian ESDM melalui Ditjen Migas, PT Pertamina, serta aparat penegak hukum untuk segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi.
Menurut warga, langkah itu perlu dilakukan sekaligus mencegah potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan warga.
“Kami sudah lama memperhatikan aktivitas itu. Tapi sebagai masyarakat, kami tidak punya kewenangan memeriksa. Karena itu kami minta Pertamina, Migas, dan polisi turun ke lapangan,” ujar warga lainnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak SPBU, Pertamina, mengenai dugaan tersebut. Pemeriksaan lapangan dan klarifikasi sangat diperlukan untuk menghindari kesimpangsiuran informasi.(Asen/Red/PI).
![]()

