PATRAINDONESIA.COM (Pekalongan) – Aroma megono tercium semerbak saat mentari pagi menyinari Obyek Wisata Linggoasri, Senin (7/4). Ribuan pasang mata tertuju pada barisan gunungan yang berjalan pelan-pelan, menyusuri jalur dari Bumi Perkemahan menuju panggung utama.
Pemandangan ini bukan sekadar kirab biasa. Inilah Syawalan Megono Gunungan, tradisi tahunan yang selalu dinanti masyarakat Kabupaten Pekalongan usai Lebaran.
Pemerintah Kabupaten Pekalongan kembali menggelar acara budaya penuh makna ini dengan meriah. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 19 gunungan dari 19 kecamatan turut ambil bagian. Masing-masing membawa konsep dan karakteristik unik, mulai dari tema bahari, mode jadul, hingga nuansa adat Jawa yang kental. 
Tidak hanya itu, satu gunungan tambahan dari BUMD seperti Bank Jateng, BKK Kabupaten Pekalongan, dan PDAM Kabupaten Pekalongan turut menambah semarak acara, menjadi simbol sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.
Kirab dimulai dari Bumi Perkemahan Linggoasri. Wakil Bupati H. Sukirman, S.S., M.S. dengan semangat melepas rombongan gunungan untuk memulai prosesi budaya ini. Barisan gunungan yang diiringi oleh peserta dengan busana khas dan ornamen tradisional ini kemudian berjalan menuju panggung utama, yang telah disiapkan di halaman parkir obyek wisata.
Di sinilah titik klimaks acara dimulai. Setibanya di panggung utama, rombongan disambut langsung oleh Bupati Pekalongan Dr. Hj. Fadia Arafiq, S.E., M.M. yang hadir bersama jajaran Forkopimda Kabupaten Pekalongan, serta anggota Komisi IX DPR-RI yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Pekalongan, H. Ashraff Abu.
Suasana terasa hangat dan penuh semangat. Antusiasme warga yang memadati lokasi sejak pagi hari menjadi bukti bahwa tradisi ini telah menjadi bagian penting dari identitas budaya lokal. Tidak hanya sebagai hiburan, Syawalan Gunungan Megono juga menjadi wadah ekspresi kreativitas kecamatan dalam menampilkan potensi unggulan serta kekompakan warganya.
“Syawalan ini bukan hanya pesta rakyat, tapi juga bukti bahwa semangat gotong royong dan pelestarian budaya masih hidup di tengah masyarakat kita,” ujar Bupati Fadia dalam sambutannya.
Konsep kirab tahun ini pun terbilang unik. Beberapa kecamatan menghadirkan nuansa bahari lengkap dengan miniatur perahu dan ikan-ikan hasil laut. Ada pula yang tampil bergaya fashion jadul khas era 70-an dengan iringan lagu-lagu klasik, sementara yang lain menampilkan adat istiadat Jawa, lengkap dengan gunungan yang dihiasi hasil bumi seperti pisang, ketela, cabai, dan tentu saja megono—kuliner khas Pekalongan yang menjadi simbol kebersamaan dan kesederhanaan.
Puncak acara diisi dengan penilaian gunungan-gunungan tersebut oleh panitia dari Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Setda Kabupaten Pekalongan. Para pemenang akan diumumkan dan diberi penghargaan sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan partisipasi dalam menjaga warisan budaya daerah.
Tak hanya kirab dan kontes gunungan, panggung hiburan rakyat pun turut menggoyang suasana dengan penampilan artis-artis lokal dan ibu kota. Suara tawa dan tepuk tangan pecah, menyatu dalam semangat kebersamaan yang begitu kental terasa di udara Linggoasri.
Dengan sinergi antara pemerintah, kecamatan, BUMD, dan masyarakat, Syawalan Gunungan Megono 2025 bukan sekadar acara seremonial, tetapi telah menjelma menjadi ajang promosi pariwisata, budaya, sekaligus pemberdayaan potensi desa yang patut dipertahankan dari generasi ke generasi.(Ikhwanudin/Red/PI).
![]()

