Warga Desa Sridadi Siap Jadi Saksi, Desak Penyidikan Mafia Gas yang Diduga Picu Kenaikan Harga

Patra News351 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM (Lampung Tengah) – Lonjakan harga gas subsidi yang mencapai Rp 45.000 per tabung di warung-warung sekitar Kecamatan Kalirejo menjadi perhatian serius bagi warga Desa Sridadi, Kabupaten Lampung Tengah, pasalnya SK Gubernur Lampung sudah menentukan Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni Rp 20.000 per tabung.

Fenomena ini menimbulkan keresahan mendalam, dengan dugaan kuat adanya praktik mafia gas yang sengaja memanipulasi harga demi keuntungan pribadi.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari konsumen di Dusun 5, Desa Sridadi, harga gas di pangkalan lokal telah melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni Rp 35.000 per tabung.

Pada 4 April 2025, harga gas di beberapa tempat bahkan menembus angka Rp 45.000, sebuah lonjakan yang cukup mencengangkan dan jelas memberatkan perekonomian warga.

“Ini jelas meresahkan. Gas subsidi yang seharusnya terjangkau di kisaran Rp 20.000 malah dijual dengan harga selangit. Kami menduga ada pihak-pihak tertentu yang sengaja mencari keuntungan dengan menaikkan harga,” ujar salah satu warga yang tidak ingin disebutkan namanya.

Warga setempat mengungkapkan bahwa mereka siap menjadi saksi dan memberikan keterangan kepada pihak berwenang, baik pemerintah maupun aparat penegak hukum (APH), jika mereka turun ke lapangan untuk menyelidiki masalah ini lebih lanjut.

BACA JUGA: https://patraindonesia.com/harga-gas-subsidi-di-kalirejo-tinggi-bupati-diminta-usut-tuntas-mafia-gas/

Sampai saat ini, belum ada tindakan dari pemerintah maupun APH yang terlihat langsung menyelidiki fenomena kenaikan harga gas subsidi ini.

Warga Desa Sridadi sangat berharap agar pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan harga gas, yang kini semakin melambung tinggi dan memberatkan banyak keluarga.

“Peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk mengontrol distribusi gas subsidi agar tidak dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Kami berharap penyelidikan segera dilakukan dan harga gas bisa kembali normal,” tambah warga lainnya, Minggu (06/04/2025)

Kenaikan harga gas ini, yang dirasakan tidak hanya di Desa Sridadi, melainkan juga di sejumlah daerah lain, semakin menambah beban hidup masyarakat. Gas yang seharusnya menjadi komoditas yang mudah diakses dengan harga terjangkau kini menjadi salah satu sumber keresahan bagi banyak keluarga yang menggantungkan hidupnya pada energi ini.

Masyarakat kini menunggu langkah konkret dari pihak berwenang untuk segera menyelesaikan masalah ini dan memastikan distribusi gas subsidi berjalan dengan baik dan transparan.

Awak media juga sempat mendatangi salah satu pangkalan, namun pemilik menyampaikan bahwa kenaikan gas terjadi karena adanya kelangkaan gas saat di bulan Ramadhan, Sabtu (04/04/2025).

“Terakhir saya jual di harga Rp 20.000 per tabung seminggu sebelum lebaran dan itupun stock gas yang ada di gudang habis pada saat itu,” terangnya.

“Penggunaan gas Melon menjelang lebaran sangat tinggi terlebih hingga saat ini belum ada lagi penyuplaian gas yang kemudian menimbulkan kelangkaan gas,”terang pemilik Pangkalan yang berada di Sridadi.(Asen/Red/PI).

Loading