Sandri Desak Reformasi Polri Menyentuh Jantung Struktur Organisasi

Organisasi436 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM – (Jakarta) – Reformasi Polri dinilai tidak cukup hanya mengubah pola pikir dan budaya kerja aparat. Sandri Rumanama, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI), menegaskan bahwa pembenahan yang dibutuhkan saat ini harus bergerak lebih dalam, yakni menyentuh susunan struktural dan organisasi Polri.

Menurut Sandri, tantangan keamanan dan dinamika kejahatan bergerak mengikuti perubahan zaman. Karena itu, ia menilai kinerja Polri mesti disesuaikan dengan kebutuhan negara yang terus berkembang.

“Tuntutan kebutuhan negara dan kasus kriminal berjalan sesuai era. Tim reformasi harus melek soal ini. Kebutuhan dasarnya memang ranah kultural etika, sistem, dan budaya kerja namun upgrade struktural dan organisatoris juga penting,” katanya.

Sebagai Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institut, Sandri menyoroti tiga posisi penting dalam tubuh Polri yang menurutnya seharusnya dipimpin oleh perwira tinggi minimal berpangkat Brigadir Jenderal Polisi. Posisi yang dimaksud adalah Staf Pribadi Pimpinan (Spripim Polri), Pelayanan Markas (Yanma Polri), dan Sekretariat Umum Polri (Setum Polri).

“Tiga unsur ini perannya vital. Harus di-upgrade segera agar pelaksanaan tugas Polri bisa optimal,” ujar Sandri.

Ia menilai ada ketidakseimbangan di struktur organisasi, mengingat ketiga unit tersebut berada tepat di bawah Kapolri yang berpangkat bintang empat. Sementara dari sisi aparatur, level jabatan tersebut idealnya sudah berada pada golongan III (d) atau V (a). Kondisi itu, menurutnya, menuntut revisi tata birokrasi di internal Polri agar semakin setara dan efektif.

Selain soal struktur, Sandri menyoroti pula mekanisme mutasi, rotasi, hingga promosi jabatan yang menurutnya masih jauh dari praktik yang adil.

“Reward and punishment harus adil. Banyak personel bermasalah malah dapat promosi, sementara yang berkinerja baik tidak dilirik pimpinan. Ini budaya yang harus dirombak total,” ujarnya.

Sandri menyinggung contoh mencolok: enam perwira tinggi yang sempat terkait perkara Ferdy Sambo, namun kariernya justru melesat dan mendapat kenaikan pangkat. Ia menyebut hal ini sebagai catatan gelap yang sudah tidak lagi asing di mata publik.

“Budaya ini harus berani diubah. Jika tidak, personel berprestasi akan kehilangan motivasi karena mereka tidak diberi penghargaan yang semestinya, bahkan sebaliknya,” tegasnya.

Loading