Rakernas dan Pertemuan Ulama PERTI 2024: Oso Bahas Strategi Menghadapi Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital

Organisasi, Patra News1149 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM – JAKARTA – Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Pertemuan Ulama pada 15-17 Oktober 2024, di Jakarta.

Acara ini menjadi momen penting untuk merumuskan strategi dan tantangan dalam pengembangan pendidikan Islam.

Ketua Majelis Pembina PERTI, Dr. H. Osman Sapta (Oso), resmi membuka acara di Jakarta, yang diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, diikuti oleh lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars PERTI.

Dalam sambutannya, Drs. H. Pasni Rusli, Ketua Panitia, menyampaikan laporan kegiatan, yang dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Umum PERTI, Dr. H. M. Syarfi Hutauruk, MM.

Sebagai bagian dari pembukaan, pemutaran film dokumenter mengenai tokoh-tokoh penting PERTI, seperti Inyiak Canduang dan Prof. Dr. H. Abdul Samad, turut menghiasi acara.

Rakernas kali ini menyoroti isu-isu penting, termasuk kebijakan haji dan umrah serta inovasi dalam pendidikan Islam.

Dialog terkait kebijakan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dan Kementerian Agama mengenai penyelenggaraan ibadah haji menjadi salah satu fokus, dengan narasumber dari Dirjen Haji dan Umrah serta Kepala BPKH.

Diskusi juga meliputi relevansi kurikulum “Merdeka Belajar” dalam pendidikan agama, serta perkembangan inovatif di pesantren di tengah kemajuan teknologi digital.

Berbagai isu keorganisasian, pendidikan, dakwah, tasawuf, dan ekonomi umat dibahas dalam sidang-sidang komisi, dengan rekomendasi dari setiap komisi yang disahkan dalam rapat pleno hingga malam hari.

Oso menjelaskan bahwa PERTI, yang telah berdiri sejak 1928, memiliki visi yang jelas untuk masa depan organisasi. “Saya terus berkomunikasi dengan Ketua Umum PERTI mengenai cara-cara untuk mengembangkan organisasi besar ini, dan beliau sudah memiliki rencana matang,” ujar Oso kepada awak media pada Selasa, (15/10).

Oso juga menegaskan pentingnya saling menghormati antaragama, namun tidak berarti harus tunduk pada ajaran yang tidak sesuai dengan nilai-nilai PERTI.

“Kita harus menghormati agama lain, tetapi bukan berarti kita harus mengikuti ajaran yang tidak sejalan dengan prinsip kita,” tegasnya.

Berbicara tentang peran media sosial, Oso menyatakan bahwa platform ini penting dalam menyampaikan suara umat. Ia mengajak PERTI untuk aktif di media sosial agar lebih banyak orang mengetahui keberadaan dan aktivitas organisasi.

“Saya pesankan kepada organisasi untuk memanfaatkan media sosial, sehingga rakyat memahami bahwa ada organisasi besar seperti ini yang mencintai umatnya,” pungkas Oso.

Rakernas PERTI akan ditutup pada 17 Oktober dengan pelantikan lembaga baru di bawah PP PERTI, pembacaan rekomendasi Rakernas, dan sambutan dari Ketua Umum PERTI.

Acara ini diharapkan dapat memperkuat konsolidasi organisasi dan memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan pendidikan dan dakwah Islam di Indonesia.

 

Loading