PATRAINDONESIA.COM-JAKARTA-Gubernur Bali, I Wayan Koster, memantik diskusi publik setelah menyarankan agar Dinas Pertanian Bali meniru teknologi pertanian Israel demi mengatasi krisis pangan dan meningkatkan produktivitas lahan.
BACA JUGA: Skandal Dugaan Jual-Beli Jabatan Kontrak Terkuak di Tabanan, Bali
Namun, langkah tersebut mendapat sorotan tajam dari sejumlah pihak, salah satunya Direktur Center for Inter-Religious Studies and Traditions (CFIRST), Arif Mirdjaja.
Arif menilai, Bali tidak perlu latah meniru pendekatan negara lain yang memiliki karakter geografis berbeda, apalagi seperti Israel yang dikenal sukses mengubah lahan kering menjadi kawasan pertanian modern.
“Israel memang hebat dalam urusan teknologi pertanian, tapi Bali itu tanah subur. Kita bukan padang pasir yang butuh teknologi tinggi untuk menanam,” kata Arif kepada wartawan, Rabu (16/4/2025).
Menurutnya, permasalahan utama pertanian Bali bukan pada kekurangan teknologi, melainkan buruknya manajemen dan tata kelola sektor pertanian yang terjadi selama beberapa tahun terakhir.
BACA JUGA : Musyawarah Desa Jatirawa Tegaskan Komitmen Pengelolaan Sampah
Ia menyoroti wilayah Badung sebagai contoh nyata, di mana konversi lahan pertanian berlangsung masif tanpa pengendalian.
Lebih lanjut, Arif yang juga pernah tinggal di Israel ini mengkritisi sikap I Wayan Koster yang dinilai tidak konsisten.
Ia mengingatkan bahwa Koster pernah menolak kedatangan Timnas Israel di Piala Dunia U-20 karena alasan ideologi Bung Karno. Namun kini justru mengajak belajar ke negara yang sama.
“Dulu menolak Israel karena alasan ideologis, sekarang malah ingin adopsi teknologinya. Ini kontradiktif,” tegasnya.
Dalam pandangannya, solusi terbaik menghadapi tantangan pangan di Bali adalah kembali ke akar budaya dan kearifan lokal.
Arif menilai bahwa masyarakat Bali sejak dulu sudah memiliki sistem pertanian yang ajeg dan selaras dengan alam.
“Kalau pemerintah terus mengabaikan nilai-nilai lokal, jangan heran kalau krisis lingkungan makin parah. Bali itu punya warisan pertanian tradisional yang harus dilestarikan,” ujarnya.
Sebelumnya, dalam Musrenbang Provinsi Bali pada Selasa (15/4/2025), Gubernur I Wayan Koster menyatakan bahwa Bali perlu inovasi dalam mengelola lahan kering, termasuk mempelajari teknologi dari negara-negara yang sudah terbukti berhasil.
“Harus ada inovasi. Lahan kering bisa dijadikan pertanian modern. Kalau perlu belajar ke Israel yang bisa mengubah embun jadi air tanaman. Jangan terpaku dengan pola lama,” kata Koster.
Pernyataan ini langsung menjadi perbincangan, apalagi di tengah kekhawatiran masyarakat atas ancaman krisis pangan Bali dan maraknya alih fungsi lahan produktif.
![]()







