PATRAINDONESIA.COM – (JAKARTA) –Pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, R. Haidar Alwi, menegaskan pentingnya menjaga rasionalitas dalam membaca arah ekonomi nasional. Ia menilai sebagian besar ketakutan publik terhadap angka utang negara muncul akibat kesalahpahaman dan narasi politik yang memanfaatkan isu tersebut untuk membangun kepanikan.
“Bangsa ini tidak akan maju kalau takut pada angkanya sendiri. Ketika ekonomi dikelola dengan logika dan niat baik, utang bukan ancaman, melainkan alat strategis untuk mempercepat kemandirian bangsa,” kata Haidar Alwi di Jakarta, Minggu (3/11).
Menurut Haidar, rasionalitas ekonomi harus berada di atas politik ketakutan. Ia menilai bangsa yang terus digiring untuk takut terhadap utangnya sendiri akan kehilangan semangat produktif serta kepercayaan terhadap kemampuan nasional.
“Pembangunan tidak pernah tumbuh dari rasa takut, melainkan dari keberanian, akal sehat, dan kepemimpinan yang berorientasi pada data dan kemandirian,” ujarnya.
Disiplin Fiskal dan Kredibilitas Global
Berdasarkan data Kementerian Keuangan Republik Indonesia, total utang pemerintah per Juni 2025 mencapai Rp9.138,05 triliun dengan rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 39,86 persen. Angka tersebut jauh di bawah batas aman 60 persen sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Haidar menilai, capaian tersebut menunjukkan disiplin fiskal dan kredibilitas ekonomi Indonesia di mata dunia.
“Rasio utang di bawah 40 persen merupakan bukti bahwa Indonesia bukan bangsa peminjam yang ceroboh, tetapi bangsa yang dipercaya dalam mengelola tanggung jawabnya dengan integritas dan kecerdasan,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa posisi rasio utang Indonesia termasuk terendah di antara negara anggota G20, dan jauh lebih sehat dibandingkan negara-negara maju seperti Jepang yang memiliki rasio utang di atas 230 persen terhadap PDB.
Haidar Alwi menilai kebijakan fiskal saat ini berada di tangan yang tepat di bawah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang dilantik pada September 2025.
“Purbaya adalah teknokrat dengan karakter rasional dan berani. Ia memimpin fiskal dengan data, bukan dengan drama politik. Ini yang dibutuhkan Indonesia di tengah perubahan global,” ujar Haidar.
Kementerian Keuangan di bawah kepemimpinan Purbaya berhasil menjaga defisit APBN di kisaran 2,6 persen, meski dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global.
“Negara yang kuat bukan yang tanpa tantangan, tetapi yang mampu menjaga neraca fiskalnya tetap stabil di tengah badai global,” tambahnya.
Kedaulatan Fiskal dan Pengelolaan Utang Rupiah
Haidar Alwi menjelaskan bahwa berdasarkan data Bank Indonesia, Utang Luar Negeri (ULN) Pemerintah per Mei 2025 mencapai US$209,6 miliar, dengan mayoritas pinjaman bersifat jangka panjang dan berbunga rendah.
Dari total utang tersebut, sekitar 71–72 persen dikuasai oleh Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan di dalam negeri.
“Ketika rakyat menjadi pemegang surat utang negaranya sendiri, maka setiap rupiah bunga yang dibayar pemerintah akan kembali kepada rakyat dalam bentuk perputaran ekonomi nasional. Inilah kedaulatan fiskal sejati,” kata Haidar.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah memanfaatkan utang secara produktif, digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan, teknologi energi, pendidikan, dan riset.
“Utang produktif adalah investasi masa depan, bukan beban generasi. Yang berbahaya bukan besar kecilnya utang, tetapi arah penggunaannya,” tegasnya.
Optimisme Ekonomi dan Kepemimpinan Visioner
Haidar Alwi mengingatkan pentingnya literasi ekonomi publik agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh narasi negatif mengenai kondisi fiskal nasional. Ia menilai banyak pihak memanfaatkan isu utang untuk menimbulkan kesan ketidakstabilan ekonomi, padahal data menunjukkan sebaliknya.
“Politik ketakutan itu tidak membangun. Ia hanya melemahkan kepercayaan publik terhadap pemerintah dan menurunkan moral bangsa,” ujarnya.
Haidar menekankan bahwa rasionalitas merupakan benteng terakhir Republik. Ekonomi, menurutnya, harus dijaga dengan akal sehat, kerja nyata, dan niat baik, bukan dengan retorika politik.
“Rakyat harus diajak berpikir, bukan digiring untuk takut. Karena ketika rakyat paham, mereka akan ikut menjaga stabilitas bersama,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya berhasil menjaga arah kebijakan ekonomi tetap pro-rakyat dan pro-produksi.
Menurut Haidar, sinergi antara Presiden dan Menteri Keuangan menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi 2026 agar tetap berada di atas 5 persen dengan inflasi terkendali.
“Kepemimpinan yang tenang, ilmiah, dan visioner yang didukung oleh data rasional akan membuat Indonesia tetap tangguh menghadapi gejolak global,” ujarnya.
Selain itu, Haidar menegaskan bahwa keberhasilan fiskal bukan hanya soal menjaga angka, tetapi juga menjaga moral pembangunan.
“Negara ini harus terus berutang pada cita-cita, bukan pada kepentingan politik,” katanya.
Rasionalitas Sebagai Fondasi Republik
Haidar Alwi menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang berpikir dengan akal sehat dan bertindak dengan moral yang lurus.
“Bangsa ini tidak akan tumbuh karena rasa takut, tetapi karena kecerdasan. Ekonomi tidak akan maju karena teriakan, tapi karena kerja, data, dan niat yang lurus,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah.
“Politik ketakutan hanya akan membuat bangsa kecil di hadapan tantangan besar. Dengan rasionalitas dan optimisme, Indonesia akan tetap berdiri tegak sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat,” tutup Haidar Alwi.
![]()







