Forum KILAS Ramadan Jadi Ajang MIND ID Perkuat Hilirisasi dan Investasi Industri

Ekonomi266 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM – JAKARTA – Bulan Ramadan tak hanya menjadi waktu refleksi spiritual, tetapi juga dimanfaatkan sebagai momentum konsolidasi bagi industri pertambangan nasional. MIND ID menjadikan forum KILAS (Kupas Isu Lintas Sektor Strategis) Balik Ramadan sebagai panggung untuk merumuskan langkah strategis memperkuat hilirisasi dan ketahanan industri.

Forum yang berlangsung Kamis (19/3/2026) itu mempertemukan berbagai pemangku kepentingan guna menyelaraskan arah kebijakan. Fokusnya jelas: memperkuat rantai pasok berbasis sumber daya alam agar mampu menghasilkan nilai tambah lebih tinggi di dalam negeri.

Division Head Institutional Relations MIND ID, Selly Adriatika, menegaskan bahwa KILAS dirancang sebagai ruang koordinasi yang lebih dari sekadar forum diskusi.

“Ini menjadi sarana untuk memastikan setiap kebijakan dan program berjalan sejalan dengan target besar industrialisasi nasional,” ujar Selly.

Menurutnya, hilirisasi bukan sekadar proyek jangka pendek, melainkan proses panjang yang membutuhkan konsistensi kebijakan dan kerja sama erat lintas sektor. Tanpa kolaborasi, upaya membangun industri yang terintegrasi akan sulit tercapai.

Dari sisi kinerja, geliat investasi di sektor hilirisasi terus menunjukkan tren positif. Hingga kuartal III 2025, realisasinya telah mencapai Rp431,4 triliun, menandakan meningkatnya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan pengolahan sumber daya di dalam negeri.

MIND ID sendiri terus mengakselerasi sejumlah proyek strategis, mulai dari pembangunan smelter tembaga di Gresik, pengembangan industri aluminium dari bauksit, hingga penguatan hilirisasi nikel di Sulawesi. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur logistik batu bara juga digenjot untuk menjaga efisiensi dan keberlanjutan pasokan energi.

Namun, tantangan eksternal masih membayangi. Pergerakan harga komoditas global, disrupsi teknologi energi, hingga ketidakpastian geopolitik menjadi faktor yang harus diantisipasi pelaku industri.

“Kondisi global bergerak sangat cepat. Industri harus adaptif dan siap bertransformasi agar tetap kompetitif,” jelas Selly.

Di tingkat nasional, kebijakan larangan ekspor bahan mentah dinilai menjadi katalis penting dalam mendorong percepatan hilirisasi. Langkah ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi barang olahan bernilai tambah.

Dengan kekayaan sumber daya seperti nikel, bauksit, dan batu bara, Indonesia memiliki modal kuat untuk mempercepat transformasi industri. Meski begitu, kepastian regulasi, dukungan energi, serta insentif fiskal tetap menjadi faktor krusial dalam menjaga minat investasi.

Selly menekankan bahwa ukuran keberhasilan hilirisasi tidak hanya dilihat dari angka investasi, tetapi juga dari seberapa kuat struktur industri yang terbentuk dan dampaknya terhadap ekonomi jangka panjang.

“Kita ingin hilirisasi benar-benar memberikan manfaat konkret, baik dari sisi nilai tambah, penciptaan lapangan kerja, hingga kemandirian industri nasional,” tegasnya.

Melalui forum KILAS Balik Ramadan, MIND ID menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat transformasi industri pertambangan agar semakin solid dan mampu menjadi penopang utama ekonomi Indonesia ke depan.

Loading