PATRAINDONESIA.COM (Pesawaran) – Awan keresahan kian menebal di langit Desa Durian. Dugaan korupsi dana desa yang mencuat seakan menjadi bara yang siap menyulut api perlawanan masyarakat. Warga Kabupaten Pesawaran pun memberi isyarat: jika bara itu tak segera dipadamkan oleh Kejaksaan Negeri Pesawaran Lampung, maka gelombang unjuk rasa bisa saja tak terbendung.
Namun sinyal keseriusan datang dari pihak Inspektorat. Ketua Tim Investigasi, Asoka, memastikan pihaknya tidak sekadar berdiam diri.
“Kami sudah turun langsung: memanggil saksi, meminta keterangan, hingga memeriksa lokasi. Proses ini terus kami dalami sesuai aduan masyarakat. Besok pun tim akan kembali untuk pemeriksaan lanjutan,” ungkapnya, Senin (08/09/2025).
Di tempat yang sama, Kepala Desa Durian, Misriadi, akan lebih bijak dalam mengelola dana desa setelah usai badai tudingan ini.
“Ini jadi pelajaran besar bagi saya. Ke depan, mindset harus diubah agar lebih baik dalam merealisasikan dana desa. Terima kasih kepada media dan Inspektorat yang menjadi kontrol. Saya akan lebih berhati-hati,” ucapnya.
Edy, salah satu diantara warga Pesawaran dari desa lain menegaskan dirinya tak akan tinggal diam bila kasus itu dibiarkan menggantung tanpa ujung.
“Kalau masyarakat Desa Durian ingin menuntut haknya, itu ibarat anak meminta keadilan dari orang tuanya. Namun harus tetap dengan cara damai dan beretika,” ujar Edy yang biasa disapa Cak Edy, Kamis (11/09/2025).
Baginya, luka Durian adalah luka Pesawaran. “Masyarakat Desa Durian bagian dari Kabupaten Pesawaran, seyogianya mereka adalah saudara kami. Mereka sakit, kami pun sakit, dan kami akan mendukung,” jelas Edy.
Kini, mata masyarakat tertuju pada langkah hukum yang tengah berjalan. Apakah bara keresahan warga akan padam oleh penegakan keadilan, atau justru membesar menjadi kobaran api unjuk rasa dan waktu yang akan menjawab.(Asen/Red/PI).
![]()

