Bangunan SD Megah dan Baru di Padang Cermin Kosong Tak Berpenghuni, DPRD Pesawaran Diminta Meninjau

Patra News480 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM (Pesawaran) – Sebuah bangunan sekolah dasar (SD) yang masih baru, berdiri megah dan lengkap di Desa Hanau Brak Dusun Way Rilau Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran.

Namun ironisnya, sekolah yang dahulu menjadi pilihan utama masyarakat ini kini kosong tanpa siswa. Tidak ada aktivitas belajar mengajar, bahkan suara riuh anak-anak pun telah lama hilang.

Gedung sekolah tersebut merupakan SD Negeri 20 Padang Cermin. Dibangun dengan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) pada tahun 2020, kompleks ini terdiri atas empat ruang kelas belajar, satu kantor guru, perpustakaan, ruang UKS, hingga rumah dinas guru. Di atas lahan seluas 2.394 meter persegi, fasilitas pendidikan itu tampak lengkap dan layak pakai.

Sayangnya, sejak tahun 2022, kegiatan belajar mengajar resmi dihentikan. Semua siswa dan sebagian besar tenaga pendidik telah dipindahkan ke sekolah terdekat.

Praktis, bangunan sekolah yang masih sangat layak tersebut kini hanya dihuni oleh satu orang guru: Paulus Edy Santosa, seorang pendidik dari SD Negeri 17 Padang Cermin yang menempati rumah dinas di kompleks sekolah itu.

“Sejak tidak ada kegiatan, saya tetap tinggal di sini untuk menjaga gedung agar tidak terbengkalai. Tapi nanti kalau saya pensiun, siapa yang akan merawatnya?” ujar Paulus kepada wartawan di Rumah dinas komplek pada Kamis (17/07/2025).

Lebih menyedihkan lagi, sekolah tersebut bukan hanya menyimpan cerita gedung kosong, tetapi juga sejarah panjang pengabdian dan prestasi. SDN 20 Padang Cermin pernah menjadi tumpuan warga dan telah melahirkan banyak generasi unggul yang kini menyebar di berbagai bidang.

Tanah tempat berdirinya sekolah ini dulunya milik warga Desa Hanau Brak yang dengan penuh keikhlasan menghibahkan lahan tersebut kepada pemerintah, khusus untuk kepentingan pendidikan. Namun kini, semangat pengabdian masyarakat seolah terabaikan oleh kosongnya fungsi bangunan tersebut.

Situasi ini menjadi sorotan serius bagi masyarakat sekitar, terutama mengingat kebutuhan ruang belajar yang masih tinggi di jenjang pendidikan lain. Warga dan tokoh masyarakat mengusulkan agar gedung tersebut di fungsi gunakan kembali sebagai mestinya.

“Daripada kosong dan akhirnya rusak, lebih baik difungsikan kembali sebagaimana mestinya. Lokasinya strategis, bangunannya bagus. Tinggal kebijakan pemerintah saja,” ujar Seky seorang tokoh masyarakat.

Masyarakat berharap kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pesawaran agar meninjau dan turun tangan dalam menyikapi situasi ini. DPRD juga diharapkan dapat mendorong Dinas Pendidikan untuk melakukan kajian dan mengambil langkah strategis atas pemanfaatan aset negara yang terbengkalai ini.

DPRD Pesawaran yang membidangi pendidikan diminta memberikan perhatian khusus terhadap kondisi tersebut, termasuk meninjau langsung lokasi dan melakukan dialog dengan masyarakat sekitar.

“Kita tidak boleh membiarkan fasilitas pendidikan sebagus itu mubazir. Ini uang rakyat. Harus ada kebijakan cepat agar gedung bisa difungsikan kembali,” kata Seky.

Ke depan, jika tidak ada langkah konkret, dikhawatirkan kondisi bangunan akan mengalami kerusakan dan hilang fungsinya secara total. Bangunan pendidikan seharusnya menjadi pusat harapan, bukan sekadar tumpukan beton tak bertuan.(Asen/Red/PI).

Loading