PATRAINDONESIA.COM (Pesawaran) – Air Sungai Way Ratai yang melintasi Desa Way Urang, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, mendadak berubah keruh meski tidak terjadi hujan. Kondisi ini memicu kemarahan warga yang menilai telah terjadi pencemaran serius dari aktivitas pengolahan emas di wilayah hulu.
Ribuan warga yang bermukim di sepanjang aliran sungai akan merasakan dampaknya jika tidak dihentikan pasalnya air yang selama ini menjadi sumber kebutuhan sehari-hari kini tidak lagi layak digunakan dan diduga berpotensi membahayakan kesehatan.
“Ini bukan kejadian biasa. Tidak ada hujan, tapi air keruh pekat. Ini patut diduga kuat akibat limbah,”ujar salah satu warga, Air Sungai Way Ratai Keruh, Warga Ancam Laporkan Dugaan Limbah Emas ke Polda Lampung.

Dugaan pencemaran diperkuat setelah seorang warga, Virdian Padang Cermin melakukan penelusuran ke arah hulu sungai. Ia mengaku menemukan aktivitas pengolahan emas menggunakan tong (gelondongan) yang diduga membuang limbah langsung ke aliran sungai.
Penelusuran itu dilakukan pada Sabtu (02/05/2026) dan disebut berlokasi di Desa Bunut, Kecamatan Way Ratai, Kabupaten Pesawaran.
Sejumlah nama pun mencuat, yakni My St, dan Kd, yang diduga diantaranya sebagai pemilik pengolahan limbah tersebut.
Ketiga nama tersebut diduga memiliki tong yang berdekatan Namun, hingga kini belum ada klarifikasi dari pihak-pihak yang disebutkan.
Virdian menegaskan, jika terbukti mencemari lingkungan, aktivitas tersebut harus segera dihentikan dan pelakunya ditindak tegas.
“Harus ditindak jika sudah mencemarkan air. Air ini aset warga Kecamatan Padang Cermin,” tegasnya, Minggu (03/05/2026).
Ia juga menyatakan bahwa pihaknya telah mengantongi sejumlah bukti terkait dugaan pencemaran tersebut dan siap membawa persoalan ini ke ranah hukum.
“Data sudah kami pegang. Ini akan kami laporkan ke Polda Lampung,”tambah Virdian dengan nada tegas.
Dampak pencemaran mulai dirasakan warga. Selain air berubah warna, sejumlah warga mengaku biota sungai dilaporkan mulai mati, menandakan terganggunya ekosistem secara serius.
“Kalau ini dibiarkan, dampaknya bisa lebih luas. Kami yang menanggung kerusakan, sementara yang lain ambil keuntungan,” keluh warga lainnya.
Warga mendesak pemerintah daerah, dinas lingkungan hidup, serta aparat penegak hukum untuk tidak tutup mata dan segera turun melakukan penyelidikan. Mereka juga meminta uji laboratorium dilakukan secara transparan untuk memastikan kandungan zat berbahaya di dalam air.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari instansi terkait di Kabupaten Pesawaran maupun aparat kepolisian mengenai dugaan pencemaran tersebut.(Asen/Red/PI).
![]()









