PATRAINDONESIA.COM (Lampung) – Hukum, Pemerintahan, Politik, dan Kekuasaan adalah tema yang tak pernah habis untuk dibahas. Hal ini terbukti dari pemikiran besar yang lahir dari tokoh-tokoh seperti Plato, Socrates, Aristoteles, Machiavelli, John Locke, Montesquieu, hingga Gandhi dan Mandela.
Mereka semua berkontribusi terhadap wacana mengenai aspek-aspek fundamental dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
Di balik semua itu, ada akar masalah yang sering muncul dalam diskursus tersebut, yakni Rasionalitas, Mitos, dan Etika. Ketiganya saling berinteraksi dan mempengaruhi kebijakan hukum, pemerintahan, kekuasaan, dan politik.
Rasionalitas kadang menghasilkan pembelaan diri dengan alasan-alasan logis, sementara Mitos seringkali membentuk keyakinan yang cenderung taqlid buta. Di sisi lain, Etika dapat memicu reaksi emosional yang berlebihan, atau seringkali dikenal dengan istilah “Baper.”
Kegaduhan yang terjadi di bidang Hukum, Pemerintahan, Kekuasaan, dan Politik saat ini (dan bahkan di masa lalu) sejatinya merupakan akibat dari benturan antara Rasio, Mitos, dan Etika. Konflik-konflik ini harus segera diselesaikan dengan sikap saling berdamai dan bermaaf-maafan, terlebih menjelang bulan suci Ramadhan yang penuh berkah.
Rakyat, sebagai pihak yang merasakan dampak langsung dari kebijakan-kebijakan tersebut, tentu bisa menilai bahwa tidak ada pihak yang sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Setiap tindakan, kebijakan, atau pandangan yang muncul selalu dapat dianalisis dari sudut pandang Rasio, Mitos, maupun Etika.
Dengan demikian, Hukum, Pemerintahan, Kekuasaan, dan Politik harus tetap dijaga dalam keseimbangan antara Rasio, Mitos, dan Etika. Mungkin ada yang bertanya, mengapa perlu ada Mitos dalam kebijakan dan kehidupan bernegara? Karena Mitos merupakan bagian yang tak terpisahkan dari budaya kita.
Mitos mempengaruhi cara pandang, cara hidup, dan bahkan pembentukan norma dalam masyarakat.
“Akhir kata, marilah kita refleksikan diri dan menjaga keharmonisan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, terutama menjelang bulan yang penuh rahmat ini,” Apriyan Sucipto, Sabtu (22/02/2025) pukul 20.30 WIB.
Dibuat oleh: Apriyan Sucipto, SH, MH (Pemerhati Sosial, Politik dan Budaya)
![]()

