PATRAINDONESIA.COM (Pesawaran) – Di sudut lengang Kabupaten Pesawaran, berdiri SDN 8 Teluk Pandan. Sekolah ini bukan lagi tempat menimba ilmu semata, melainkan juga tempat menampung air hujan. Bukan karena inovasi, tapi karena atapnya yang letih, seakan sudah lelah menahan beban zaman.
Di saat sebagian sekolah bersolek dengan gedung yang megah, SDN 8 Teluk Pandan masih berjibaku dengan kenyataan getir: kelas yang mulai rapuh, atap yang menganga, dan lantai yang menjelma kolam jika hujan datang.
Bagi siswa-siswi di sana, hari hujan bukan sekadar perubahan cuaca, melainkan juga perubahan suasana belajar.
“Kalau hujan, kelas berubah jadi wahana air. Anak-anak kami belajar sambil menghindari genangan, seperti sedang berkemah di musim hujan,” sindir salah satu wali murid yang tak sanggup menutupi keprihatinan.
Kepala sekolah pun angkat suara, bukan untuk mengeluh, tetapi untuk mengetuk nurani. Ia pernah mengusulkan perbaikan, baik kepada dinas terkait maupun melalui jalur relasi. Namun sejauh ini, yang diterima hanya janji yang lebih sering larut bersama hujan pertama.
“Kami berharap pemerintah daerah tidak menunggu dinding runtuh dulu, baru bergerak. Jangan biarkan anak-anak melihat bahwa yang mereka pijak bukanlah tempat belajar, tapi simbol dari kepedulian yang bocor,” ujar salah satu Wali murid.
Para wali murid berharap lebih dari sekadar perhatian musiman. Mereka ingin ruang kelas yang layak, agar anak-anak mereka bisa belajar dengan nyaman dan penuh semangat, tanpa harus khawatir kapan air akan mulai menetes dari langit-langit.
Apakah kelayakan sekolah kini harus menunggu musim pemilu tiba? Atau apakah SDN 8 Teluk Pandan harus berganti nama menjadi “Sekolah Darurat Nasional” agar lebih terdengar?
Yang jelas, masa depan anak bangsa tidak seharusnya dibiarkan tergenang dalam ruang kelas yang kuyup.
![]()

