Jejak Pengabdian dari Balik Jeruji: Langkah Muda Thri Wicaksono

Patra News208 Dilihat

DI balik tembok tinggi dan jeruji besi, ada sosok-sosok yang bekerja dalam sunyi. Mereka bukan hanya penjaga, tetapi juga penjaga harapan. Salah satunya adalah Thri Wicaksono.

Lelaki kelahiran Purworejo, 12 Januari 1999 ini mungkin masih terbilang muda. Namun, jalan pengabdiannya di dunia pemasyarakatan telah ditempa oleh waktu, disiplin, dan tanggung jawab yang tidak ringan.

Per Kamis, 9 April 2026, berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Thri dipercaya mengemban amanah baru sebagai Kepala Pengamanan Rutan Kelas IIB Blora, Jawa Tengah. Sebuah langkah yang bukan sekadar promosi, tetapi juga bentuk kepercayaan atas integritas dan dedikasi yang ia tunjukkan selama ini.

Awal Jalan Pengabdian

Thri Wicaksono (tengah) saat melaksanakan perintah Karutan Palangka Raya untuk memastikan situasi keamanan dan ketertiban di lingkungan rutan dengan patroli.

Perjalanan Thri di dunia pemasyarakatan dimulai dari bangku pendidikan di Politeknik Ilmu Pemasyarakatan (Poltekip), jurusan Bimbingan Kemasyarakatan. Dari sana, ia ditempa bukan hanya secara akademik, tetapi juga secara mental dan moral.

Kariernya dimulai sebagai Pembimbing Kemasyarakatan Ahli Pertama di Balai Pemasyarakatan Kelas I Palangka Raya pada 2 Maret 2023. Tak butuh waktu lama, ia kemudian dipercaya menjadi Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan Kelas IIA Palangka Raya sejak 26 Mei 2025.

Dalam kurun waktu 4 tahun 4 bulan pengabdiannya, Thri menunjukkan bahwa usia bukan penghalang untuk memikul tanggung jawab besar.

Pengabdian Bukan Sekadar Tugas

Thri Wicaksono saat memimpin apel jajaran petugas keamanan Rutan Palangka Raya.

Bagi Thri, pengabdian bukan sekadar hadir dan menjalankan rutinitas. Lebih dari itu, pengabdian adalah amanah.

Di lingkungan rumah tahanan, pengamanan bukan hanya soal menjaga pintu dan memastikan tidak ada pelanggaran. Ini adalah tentang menjaga kepercayaan negara dan masyarakat agar rutan tetap aman, tertib, dan kondusif.

“Pengabdian itu tentang menjaga amanah,” menjadi prinsip yang ia pegang.

Ia memahami betul bahwa pekerjaan ini menuntut keteguhan mental. Tekanan, risiko, hingga godaan menjadi bagian dari dinamika yang harus dihadapi. Karena itu, disiplin dan integritas menjadi kompas utama dalam setiap langkah.

Mengabdi dengan Hati

Thri Wicaksono (tengah) saat mendampingi Karutan Palangka Raya saat bercengkrama dengan WBP Rutan.

Namun, di balik ketegasan itu, ada sisi lain yang sering luput terlihat: kemanusiaan.

Bagi Thri, warga binaan bukan sekadar individu yang menjalani hukuman. Mereka adalah manusia yang harus diperlakukan dengan martabat.

Mengabdi dengan hati, baginya, berarti bekerja dengan tulus, penuh dedikasi, dan tetap menjunjung nilai kemanusiaan. Pengamanan tidak boleh kehilangan sentuhan empati.
Ia percaya, pendekatan yang humanis justru menjadi kunci terciptanya keamanan yang berkelanjutan.

Pengamanan sebagai Pelayanan

Dalam perspektifnya, pengamanan adalah bentuk pelayanan. Mulai dari pengawasan, penggeledahan, hingga memastikan tidak ada barang terlarang seperti narkoba atau senjata tajam masuk ke dalam rutan.

Semua itu bukan semata-mata penegakan aturan, tetapi bagian dari upaya menjaga keselamatan bersama. Kepatuhan terhadap prosedur operasional standar (SOP) menjadi fondasi utama. Tidak ada ruang untuk kompromi ketika menyangkut keamanan.

Inspirasi Generasi Muda

Thri Wicaksono saat melakukan penggeledahan di kamar sel hunian WBP dalam kegiatan razia gabungan.

Kisah Thri Wicaksono adalah potret bahwa pengabdian tidak selalu tampil di panggung besar. Ia sering hadir dalam kerja-kerja sunyi, dalam keputusan-keputusan kecil yang diambil dengan integritas.

Di usianya yang masih muda, ia membuktikan bahwa dedikasi dan tanggung jawab dapat membawa seseorang pada kepercayaan yang lebih besar.

Dari Palangka Raya menuju Blora, langkah Thri adalah pengingat bagi generasi muda: bahwa mengabdi bukan tentang seberapa lama, tetapi seberapa tulus dan seberapa kuat kita menjaga amanah.

Karena pada akhirnya, pengabdian sejati adalah ketika pekerjaan tidak lagi sekadar kewajiban, melainkan panggilan hati. (*)

Loading