PATRAINDONESIA.COM (PALANGKA RAYA) – Ada dermaga di Barito Selatan (Barsel) Kalimantan Tengah (Kalteng) yang dibangun dari keringat pajak rakyat. Namanya Pelabuhan Kelas I Jelapat. Sejak awal tempat itu disiapkan untuk nelayan, pedagang, dan orang kecil menitipkan harapan.
Tapi hari ini pemandangannya berbeda. Yang keluar masuk justru tongkang-tongkang hitam milik PT BKI, mengangkut Crude Palm Oil keluar daerah.
Melihat itu Lembaga Swadaya Masyarakat Forum Kalimantan Membangun (LSM FKM) Kalteng tidak bisa diam.
“Ini pelabuhan rakyat, kok dipakai angkut CPO? Suratnya mana? Izinnya di mana?” tanya Ketua Umum FKM Kalteng, Supriady Natae, Sabtu (01/8/2026).
Bagi Nalau, begitu ia akrab disapa, ini bukan sekadar soal bongkar muat. Ini soal marwah. Soal apakah aturan masih dihargai di tanah sendiri.
“Kalau dermaga rakyat boleh dipakai seenaknya oleh swasta, lalu untuk apa kita bayar pajak? Untuk apa ada undang-undang? Jangan sampai Pelabuhan Umum diam-diam berubah wajah jadi Pelabuhan Khusus tanpa sepengetahuan pemiliknya, yaitu rakyat,” tegasnya.
FKM melihat ada dua hal yang mengganjal. Pertama soal legalitas yang masih berkabut. Status Pelabuhan Jelapat hari ini sebenarnya apa, dan atas dasar apa ia digunakan. Kedua soal uang rakyat.

Sudah berapa lama CPO keluar dari sini, dan berapa besar manfaatnya kembali ke daerah. Jangan sampai aset negara berubah jadi ATM yang tidak pernah ada struknya.
Karena itu FKM meminta pengelola pelabuhan bersama pemerintah daerah membuka semua pintu. Perizinan, perjanjian, kerja sama. Jangan digembok. Rakyat berhak tahu.
Sekaligus meminta aparat pengawas turun langsung, mengaudit dan menghitung dengan terang, agar tidak ada lagi ruang gelap dalam pengelolaan aset publik.
“Kami tidak anti perusahaan. Silakan berusaha. Tapi jangan makan di piring rakyat tanpa permisi. Investasi itu boleh, asal halal secara hukum dan membawa berkah untuk masyarakat Barito Selatan,” ujar Nalau.
Hal yang sama juga dirasakan Abdul H, warga Barito Selatan. “Kami sudah lama melihat. Dulu diam karena takut. Sekarang bicara karena sayang. Jangan sampai anak cucu kami hanya jadi penonton di tanahnya sendiri,” katanya.
Sampai rilis ini disebar, FKM Kalteng masih menunggu itikad baik dari pihak terkait untuk memberikan klarifikasi.
Dan satu hal yang pasti dipegang FKM, ketika ada yang janggal lalu kita memilih diam, artinya kita ikut merestui. FKM tidak akan memilih diam. (Amar Iswani/Red/PI).
![]()







