Emak-Emak Tembongraja Brebes Perbaiki Jalan Rusak dengan Uang Hasil Jual Ternak

Daerah424 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM – BREBES – Kesabaran warga Desa Tembongraja, Kecamatan Salem, Brebes, akhirnya habis. Setelah hampir dua dekade menunggu janji perbaikan jalan dari pemerintah, mereka memilih bertindak sendiri. Minggu (21/9/2025), puluhan warga kebanyakan emak-emak turun ke jalan, bukan untuk berdemo, melainkan memperbaiki lubang-lubang dengan dana swadaya.

Yang bikin kisah ini semakin getir, sejumlah warga rela menjual ternaknya. Ada yang melepas entok, ada pula yang menjual bebek, demi membeli material untuk menutup jalan rusak. “Perbaikan ini swadaya. Kami mengerahkan semua masyarakat untuk ikut, sekaligus menunjukkan sikap moral kami kepada pemerintah,” kata Eko Sucarko, warga Tembongraja.

BACA JUGA : 

Mengapa Jalan di Lampung Rusak? Ini Deretan Penyebabnya (2)

Infrastruktur Janji yang Tak Kunjung Datang

Bagi warga, jalan kabupaten ruas Salem–Tembongraja bukan sekadar akses, melainkan urat nadi ekonomi desa. Namun, kondisinya sudah lama hancur, menelan korban kecelakaan dan menyulitkan aktivitas sehari-hari.

“Dari saya kecil sampai sekarang belum juga diperhatikan. Kami merasa seperti dikucilkan,” ujar Farida, salah seorang perempuan yang ikut bergotong royong.

BACA JUGA : 

Bagian Depan Gedung Kantor Pemerintah Terpadu Brebes Ambruk, Satu Warga Luka Terjepit

Kekecewaan itu semakin terasa ironis. Warga, kata Eko, selalu taat membayar pajak, tapi hak dasar berupa infrastruktur layak justru tak kunjung mereka terima.

Anggaran Ada, Realisasi Tak Jelas

Kepala Desa Tembongraja, Abdul Kholik, mengonfirmasi bahwa tahun ini sebenarnya sudah ada alokasi anggaran pemeliharaan jalan sebesar Rp500 juta. Namun, hingga September, pekerjaan fisik tak pernah dimulai.

“Awalnya dijanjikan selesai setelah Lebaran April. Ditunda lagi katanya Agustus. Sekarang sudah September, tetap tidak ada perbaikan. Warga akhirnya kesal,” kata Kholik.

Di bawah terik matahari, puluhan warga—emak-emak, bapak-bapak, hingga anak muda—bergantian mengangkut batu dan menata jalan berlubang. Di tengah keringat dan debu, mereka berharap aksi simbolis ini membuka mata pemerintah: warga desa tak bisa terus-menerus diminta menunggu tanpa kepastian. (Wawan/Red/PI)

Loading