oleh

Ini Dia, Kisah Sukses Chris, si Radja Tempe

-Peristiwa-867 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM (Brebes) – Di tengah hiruk-pikuk membangun komunitas pemuda-pemudi Pasarbatang Terkini Berbagi, banyak kisah menarik yang layak ditulis sebagai pengingat akan jasmerah ( jangan sekali-kali melupakan sejarah). Salah satunya adalah perjalanan hidup Krisdi Hartono sapaan akrabnya” Chris, yang kini dikenal sebagai sosok di balik brand Radja Tempe.

Dulu, Krisdi Hartono sapaan akrabnya “Chris” hanyalah seorang karyawan biasa di Sistem Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE). Hidupnya sederhana, penghasilan pas-pasan, dan hari-harinya diisi rutinitas yang membosankan. Ia sama sekali tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah total ketika tempat kerjanya harus tutup akibat intervensi politik praktis.

Merasa terpukul, Chris memutuskan untuk kembali ke kampung halaman istrinya di Desa Klampok, Wanasari, Brebes. Tak banyak yang ia miliki selain tekad dan keyakinan untuk tidak menyerah pada keadaan.

Di desa yang asri itu, Chris mulai memutar otak. Dukungan dari sahabat-sahabat di Paster (Pasarbatang Terkini Berbagi) membakar semangatnya. Ia teringat masa kecil saat membantu saudaranya memproduksi tempe—kenangan itu menjadi titik awal bagi usaha barunya.

Dengan modal hasil pesangon Jamsostek dan sedikit tabungan, Chris belajar membuat tempe di dapur rumahnya. Berkali-kali ia gagal, mencoba lagi, bereksperimen tanpa henti, hingga akhirnya menemukan resep tempe dengan cita rasa khas dan tekstur padat yang tak mudah hancur. Dari sinilah lahir brand kebanggaannya: Radja Tempe – Ora Nempe Ora Mangseg.

Awalnya, Chris berjualan keliling desa, menawarkan tempe dari warung ke warung. Penolakan demi penolakan ia terima—banyak warung sudah memiliki pemasok tetap. Namun, ia tak menyerah. Sebulan kemudian, perlahan warga mulai mengenal kualitas tempe buatannya. Chris tak hanya menjual rasa, tetapi juga kepercayaan dan ketekunan.

Dalam beberapa tahun, usaha kecil itu tumbuh. Produksi meningkat, dan Chris mulai menggaji beberapa tetangga sebagai pekerja musiman untuk memenuhi pesanan yang semakin banyak. Nama Radja Tempe kini dikenal hingga pasar-pasar tradisional di Brebes dan Tegal.

Meski sukses, Chris tak pernah lupa darimana ia berasal. Ia tetap rendah hati, membuka pelatihan gratis bagi warga desa dan pelajar yang ingin belajar produksi tempe. Sebagian penghasilannya pun ia sisihkan untuk membantu mereka yang kurang mampu.

Kini, Chris tak hanya dikenal di dunia nyata tetapi juga di media sosial. Ia bercita-cita menjadi pengusaha sukses yang bermanfaat bagi keluarga, agama, masyarakat, bangsa, dan negara. Ia ingin menjadi sosok dermawan yang peduli dan tak segan membagikan kisah perjuangannya demi memotivasi banyak orang.

Dari Sistem Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE) ke pasar tradisional, dari kegagalan ke keberhasilan, Chris telah membuktikan bahwa keberanian untuk memulai dan kesetiaan pada kualitas bisa mengubah nasib.

Kini, “Radja Tempe” bukan hanya sekadar nama dagang, tetapi juga simbol kerja keras dan harapan yang membumi.

“Terima kasih. Semoga kisah ini menjadi pengalaman berharga sekaligus doa yang terus hidup.”

Chris – “Radja Tempe”

(Wawan/Red/pi)

Loading