PATRAINDONESIA.COM (Lumajang) – Suasana kelam menyelimuti permukiman warga di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, setelah erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Kamis (20/11/2025).
Hamparan rumah yang sebelumnya berdiri rapat kini berubah menjadi puing-puing tak beraturan. Puluhan rumah warga, termasuk fasilitas umum seperti sekolah, musala, dan sejumlah bangunan pendukung aktivitas masyarakat, rata oleh terjangan material lahar yang meluncur deras dari puncak gunung.

Material vulkanik yang masih hangat bercampur dengan potongan kayu, atap seng, dan perabotan rumah berserakan di berbagai sudut desa. Di tengah gambaran kehancuran itu, warga tetap berusaha tabah. Banyak di antara mereka terlihat menyisir reruntuhan, berharap masih ada barang yang bisa diselamatkan untuk dibawa ke tempat aman atau pos pengungsian.
Sementara itu, situasi di wilayah terdampak khususnya Desa Supiturang dan wilayah sekitar masih sangat dinamis. Aktivitas vulkanik Gunung Semeru dilaporkan belum sepenuhnya mereda. Guguran awan panas dan aliran lahar dingin masih menjadi ancaman bagi warga yang tinggal di sekitar lereng maupun bantaran sungai yang menjadi jalur aliran material vulkanik.
Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, relawan SAR, serta masyarakat setempat terlihat hilir mudik melakukan pemantauan. Mereka memastikan tidak ada warga yang berada terlalu dekat dengan zona berbahaya, sambil mengevakuasi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil ke titik aman.
Sejumlah area di desa tersebut dilaporkan tertutup abu vulkanik tipis. Jalan-jalan utama di Pronojiwo sempat terhambat akibat guguran material dan kabut tebal yang menyelimuti kawasan kaki Semeru, mengurangi jarak pandang pengendara. Aparat terus berupaya membersihkan akses dan memastikan jalur evakuasi tetap terbuka.
Arus pengungsian bersifat fluktuatif. Sebagian warga memilih bertahan di rumah sambil memantau situasi, terutama mereka yang tinggal di zona yang dianggap relatif aman. Namun sebagian lainnya sudah mengungsi ke beberapa pos penampungan darurat yang didirikan di balai desa, sekolah, dan fasilitas umum lain di wilayah yang jauh dari lereng gunung.
Petugas kesehatan dari beberapa instansi terlihat memberikan layanan kesehatan ringan, mulai dari penanganan iritasi mata akibat abu, pemeriksaan pernapasan, hingga bantuan psikososial.
Pendistribusian logistik seperti makanan siap saji, selimut, dan air bersih sudah dilakukan oleh relawan dan petugas kemanusiaan. Meskipun begitu, beberapa wilayah yang akses jalannya sempat terputus membuat distribusi bantuan memerlukan waktu lebih lama. (Red/PI)
![]()

