Pupuk Mahal, Petani Gigit Jari: Kios Affandi Jaya Diduga Main Harga di Ladang Subsidi

Patra News447 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM (Tanggamus) – Di balik gemerincing receh hasil panen yang tak seberapa, para petani di Klumbayan Barat Kabupaten Tanggamus kini harus menelan pil pahit.

Bukan karena hama atau cuaca buruk, tapi karena harga pupuk subsidi yang seharusnya jadi sahabat petani kecil, mendadak berlagak jadi barang mewah di etalase toko.

Kios pupuk Affandi Jaya di Dusun Margasari, Pekon Merbau, diduga menjual pupuk subsidi layaknya emas batangan – mahal dan tak terjangkau, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditegaskan oleh pemerintah.

Harga urea yang seharusnya bersahabat, diduga melonjak jadi Rp150.000 per sak, sementara Ponska juga diduga ikut menari ke angka Rp160.000. Entah pupuknya ditabur dengan doa khusus, atau memang ada “bumbu” harga dari langit yang membuatnya melayang seperti balon lepas tali.

Seorang warga dari Pekon Purwosari, yang ingin menyuburkan ladangnya, justru dibuat layu lebih dulu oleh harga yang membakar isi dompet sebelum cangkul pertama menyentuh tanah.

Sementara itu, pada Sabtu (22/03/2025) sang kepala RT setempat, yang dikenal dengan nama Gugun, membenarkan keberadaan kios tersebut. Sepertinya sang empu kios, Fahrurohman alias Oman, sedang menepi dari badai kritik dan memilih diam di balik kabut ketidakjelasan.

Saat tim media mencoba menggali informasi pada Sabtu (22/03/2025) sang mertua, Nasrudin, justru tenang seperti air sungai di musim kemarau. Dengan santainya, ia menyebut harga melambung itu sudah “sesuai arahan” dari pihak pendistribusi. Arahan dari siapa? Entahlah – mungkin dari langit ketujuh atau lorong gelap yang tak tersentuh hukum.

Tak tinggal diam, Virdian dari Lembaga Swadaya Masyarakat, bersiap mengantar kasus ini ke meja Polres Tanggamus, sejalan dengan amanat dari Kementerian Pertanian.

Virdian menyampaikan secara resmi melalui media pada Kamis (01/05/2025) “Jika pupuk subsidi saja sudah dijadikan mainan, maka petani hanya tinggal memupuk harapan kosong di ladang yang makin tandus,” ungkapnya.

Masyarakat pun berharap, penegak hukum tidak hanya jadi penonton di panggung dagelan ini. Mereka butuh keadilan yang nyata, bukan sekadar janji-janji manis seperti brosur pupuk yang menjanjikan panen melimpah, tapi justru membuat petani semakin merunduk menatap tanah.

Jika benar ada yang menjual subsidi dengan harga selangit, maka hukuman setimpal harus dijatuhkan – tak sekadar sebagai cambuk, tapi sebagai pagar api, agar tak ada lagi yang berani menari di atas penderitaan petani kecil.

Loading