PATRAINDONESIA.COM | (Tangerang) – Ketegangan antara Iran dan Israel mencapai puncaknya pada Minggu pagi setelah kedua negara melancarkan serangan langsung ke pusat-pusat pertahanan strategis masing-masing. (15/6/2025).
Kantor berita IRNA melaporkan bahwa serangan udara Israel menghantam markas besar Kementerian Pertahanan Iran di Teheran, menewaskan sejumlah pejabat tinggi IRGC dan ilmuwan nuklir.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal balistik ke wilayah Tel Aviv dan Bat Yam, menghantam kompleks militer IDF dan menewaskan sedikitnya 10 orang. Ledakan terjadi di Haifa, Tel Aviv, dan Jerusalem akibat gempuran Iran.
Komandan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa sistem Iron Dome kewalahan menghadapi gelombang rudal dan drone yang diluncurkan Iran, sementara warga sipil di Bat Yam dan Tamra dievakuasi ke tempat perlindungan.
Iran dan Israel Saling Serang Pada Minggu (15/6/2025)
Dilaporkan bahwa warga Teheran mendengar ledakan besar serta kobaran api di sekitar fasilitas militer yang menjadi target serangan Israel. Kementerian Kesehatan negara itu menyatakan serangan Israel menewaskan sebanyak 224 orang sejak Jumat (13/06). Adapun korban luka mencapai 1.227 orang.
Dari ratusan korban tewas itu, terdapat kepala unit intelijen Korps Garda Revolusi (IRGC), Mohammad Kazemi. Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan IRGC melaporkan bahwa Kazemi tewas bersama wakilnya, Hassan Mohaqeq, dan komandan Mohsen Baqeri, pada Minggu (15/06).
Serangan ini merupakan eskalasi paling serius dalam konflik kedua negara dalam dua dekade terakhir, dengan potensi dampak global terhadap stabilitas kawasan dan pasar energi dunia.
Israel mengklaim bahwa serangannya telah mengenai 250 titik lokasi, termasuk markas besar Kementerian Pertahanan Iran, Organisasi Inovasi dan Penelitian Pertahanan, fasilitas nuklir Natanz, dan fasilitas nuklir di Isfahan.
Rudal Israel juga menghantam kilang minyak dan kapal tanker minyak Shahran, di Iran. Video yang dipublikasikan oleh warga Iran di media sosial dan telah diverifikasi data keautentikasinya oleh BBC, menunjukkan kebakaran besar di depot minyak sebelah barat laut ibu kota Teheran.
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Iran membalas serangan Israel dengan melancarkan gempuran rudal balistik terhadap puluhan target, pusat militer, dan pangkalan udara di Israel. Iran menamai operasi serangan balasan tersebut dengan nama True Promise 3. Beberapa rudal Iran dilaporkan menghantam tempat di Israel, termasuk di Tel Aviv dan Ramat Gan, kota dekat Tel Aviv.
Sementara itu, menurut juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Avichay Adraee, Iran telah meluncurkan kurang dari 100 rudal dalam dua gelombang serangan ke Israel. Dalam sebuah Postingan di akun X, ia mengklaim sebagian besar rudal Iran berhasil dicegat atau gagal mencapai target.
Diberitakan sebelumnya, bahwa Iran berhasil menembak jatuh tiga pesawat jet tempur siluman tipe tercanggih F-35. Dalam laporannya Angkatan Darat Iran (Artesh) telah menembak jatuh jet tempur siluman F-35 Israel yang ke-3 sejak perang dimulai hari Jumat (13/6).
Dari ketiga jet tempur tersebut, dua pilot dikabarkan telah ditangkap setelah melontarkan diri di atas wilayah Iran barat. Sedangkan pilot ketiga diduga telah tewas.
Jika memang Klaim Iran benar, maka Iran menjadi negara pertama yang sukses merontokkan jet tempur siluman generasi kelima yang konon tercanggih sedunia itu dan hanya khusus dibuat untuk Israel oleh Amerika..
Pemimpin Spiritual Tertinggi Iran Ali Khamenei memperingatkan, bahwa pasukan Iran akan “bertindak dengan kekuatan” terhadap Israel. Dalam unggahan nya di media sosial X, ia memperingatkan Israel “tidak akan lolos tanpa cedera dari kejahatan ini”.
Israel Berencana Membunuh Ayatollah Khamenei dan Melakukan Pergantian Rezim
Di tengah saling serang dengan bertukar rudal jelajah balistik antara Israel dan Iran, muncul kabar bahwa Presiden AS Donald Trump menolak rencana Israel untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, hal ini berdasarkan informasi tiga pejabat AS kepada CBS News, mitra BBC di AS.
Seorang pejabat AS mengatakan Israel memiliki kesempatan untuk membunuh Khamenei. Namun, Trump menyampaikan kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahwa hal itu bukan “ide yang bagus”.
Para pejabat itu mengatakan, percakapan antara Netanyahu dan Trump terjadi setelah Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pekan lalu. Penolakan Trump terhadap usulan tersebut pertama kali dilaporkan oleh kantor berita Reuters.
Dilansir dari BBC News, selama wawancara dengan Fox News, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu tidak secara langsung mengonfirmasi atau membantah laporan Reuters tersebut.
Dalam wawancara dengan Fox News, Benjamin Netanyahu ditanya apakah perubahan rezim di Iran merupakan bagian dari rencana upaya Israel untuk menggulingkan pemerintahan Iran?.
“Itu bisa jadi hasilnya, karena rezim Iran sangat lemah,” kata Netanyahu.
Netanyahu mengeklaim, rezim Iran saat ini tidak “memiliki rakyat”, dan mengatakan bahwa, “80% rakyat” ingin menggulingkan pemerintah Iran. Netanyahu mengatakan, kalaupun Iran setuju untuk berhenti menembakkan rudal ke Israel sebagai bagian dari kesepakatan apa pun, hal itu tidak berarti Teheran akan berhenti mengembangkan kemampuan nuklir.
Sebagai pengingat, Iran telah berulang kali membantah bahwa mereka tidak memiliki program senjata nuklir.
Fasilitas Nuklir Tidak Boleh Diserang
Sebagai informasi, Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) pada Jumat (13/6) menyerukan penghentian serangan terhadap fasilitas nuklir, hal ini diserukan IAEA setelah Israel menyerang fasilitas nuklir di Iran pada Jumat dini hari.
“Fasilitas nuklir tidak pernah boleh diserang, terlepas dari konteks atau kondisi apa pun karena hal itu dapat membahayakan baik manusia maupun lingkungan,” kata Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi dalam pertemuan Dewan Gubernur IAEA.
Grossi melanjutkan “Serangan semacam itu memiliki implikasi serius bagi keselamatan nuklir, keamanan dan pengamanan serta perdamaian dan keamanan di tingkat regional maupun internasional.”
Sementara itu ribuan warga Iran mengikuti aksi unjuk rasa besar-besaran di Teheran pada Minggu (15/6/2025) waktu setempat. Aksi yang dilakukan warga Iran ini, sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah mereka di tengah-tengah serangan yang terus berlangsung oleh Israel ke dalam wilayah negara Iran.
Ahmad Nosrati seorang demonstran, menyatakan dukungannya terhadap pemerintah Iran.
“Kerumunan ini turun ke jalan berarti rakyat siap untuk perang skala penuh. Faktanya, ini sudah menjadi perang skala penuh. Mereka datang dengan drone, melanggar wilayah udara kita.” ujar Nosrati.
(Guskur/Red/PI)
![]()

