PATRAINDONESIA.COM (Jaweten) -Ini kisah sedih petani karet. Rayuman, adalah petani karet dari desa Jaweten itu tak bisa memanen pohon karet di kebunnya yang berada di pinggir jalan hauling batu bara PT Senamas Energindo Mineral atau PT SEM.
Jika musim penghujan, lahannya terendam air berlumpur yang mengalir dari jalan hauling yang dikenal sebagai Jalan Pertamina tersebut. Meski sudah ditahan dengan penahan seperti settlingpond, tetapi lumpur tetap saja meluap. Dan, kebun Rayuman yang berisi tanaman seperti karet, tak bisa menghasilkan.

Kini di saat kemarau, lumpur yang semula membanjiri kebun itu telah mengering. Dan akibatnya lebih parah, tanaman karet miliknya gering seperti terkena penyakit. Tidak menghasilkan.
Rayuman, warga Desa Jaweten, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah itu mengaku sudah kehabisan akal. Berbagai pihak telah menyatakan komitmennya untuk membantu mengatasi lumpur yang melanda kebunnya. Tetapi hingga kini tidak ada penyelesaian. “Dinas Lingkungan Hidup Barito Timur, Kepala Desa Jaweten memberi dukungan kepada saya. Sementara PT SEM yang paling bertanggungjawab terhadap lumpur itu, justru tidak menunjukkan komitmennya. Padahal PT SEM juga sudah mengakui bahwa lumpur yang meluap ke kebun saya itu akibat hauling truk-truk batu bara miliknya,” keluh Rayuman usai berkeliling melihat kebunnya.
“Lihat ini pohon-pohon pada gering, dan ini bekas lumpurnya menempel di pohon, di sampah, dan di tanah,” kilahnya.
Rayuman lalu menuturkan, pihak PT SEM sebenarnya sudah mau memberi kompensasi terhadap kerugian yang ia derita. Tetapi nilai yang ditawarkan sangat tidak manusiawi. Sangat kecil. “Padahal saya sudah menderita kerugian bertahun-tahun. Sejak tahun 2019 kebun saya terdampak lumpur seperti ini.”
Sebelum tahun 2019, lanjut Rayuman, justru PT SEM memberi kompensasi untuk menangani lumpur ini Rp700 ribu per bulan. “Tetapi sekarang, meski saya sudah menjadi korban lumpur lebih dari enam tahun, saya cuma mau dikasih Rp5 juta. Ini sangat tidak setimpal. Dan saya tidak mau terima,” keluh Rayuman.
Dampak itu memang tidak terlalu terasa di musim kemarau seperti ini. “Tetapi jika musim penghujan, luapan lumpur dari jalan hauling PT SEM, meluap ke kebun saya. Karena itu, selain kompensasi atas kerugin saya selama enam tahun, saya minta mencegah agar di musim hujan nanti kebun saya tidak menjadi korban lumpur lagi. (Red/PI)
![]()

