SEPETA Wakili Suara Jutaan Pekerja Platform Digital ke Sidang Buruh di Jenewa

Nasional721 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM Jenewa, Swiss — Sidang ke-114 International Labour Conference (ILC) yang diselenggarakan oleh International Labour Organization (ILO) resmi dibuka di Jenewa, Swiss, pada Senin (1/6/2026). Konferensi ketenagakerjaan terbesar di dunia tersebut berlangsung hingga 12 Juni 2026 dan diikuti oleh delegasi pemerintah, organisasi pengusaha, serta serikat pekerja dari 187 negara anggota ILO.

Tahun ini menjadi momentum penting bagi pekerja platform digital di seluruh dunia. Salah satu agenda utama yang mendapat perhatian besar adalah pembahasan lanjutan mengenai decent work in the platform economy atau kerja layak dalam ekonomi platform digital. Pembahasan ini diarahkan untuk mendorong lahirnya standar internasional yang memberikan perlindungan lebih kuat bagi pekerja platform seperti pengemudi transportasi daring, kurir paket, pekerja aplikasi, dan profesi digital lainnya.

Selain itu, konferensi juga membahas penguatan dialog sosial tripartit, transformasi kesetaraan gender di dunia kerja, serta evaluasi penerapan berbagai konvensi dan rekomendasi ketenagakerjaan internasional.

Dalam forum internasional tersebut, Serikat Pengemudi Tranportasi Indonesia (SEPETA) mendapat kehormatan menjadi bagian dari delegasi resmi yang mewakili Indonesia. Kehadiran SEPETA di pusat diplomasi ketenagakerjaan dunia bukan sekadar simbol partisipasi, melainkan membawa mandat dan harapan jutaan pekerja platform Indonesia yang selama ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian status kerja, minimnya perlindungan sosial, hingga praktik-praktik eksploitasi yang lahir dari sistem digital yang tidak transparan.

SEPETA menegaskan bahwa perjuangan pekerja platform tidak boleh berhenti pada pengakuan status semata. Yang lebih penting adalah memastikan adanya perubahan sistemik yang menjamin hak, kesejahteraan, dan perlindungan bagi seluruh pekerja platform.

Sebagai bagian dari perjuangan tersebut, SEPETA membawa resolusi bertajuk BASECAME yang memuat empat tuntutan utama.

Pertama, Transparansi Algoritma. SEPETA menilai sistem algoritma yang digunakan perusahaan platform tidak boleh menjadi alat penindasan digital yang bekerja secara tertutup. Pekerja berhak mengetahui mekanisme penilaian, pembagian order, suspend akun, hingga berbagai bentuk pemotongan yang diterapkan platform.

Kedua, Kebebasan Berserikat dan Berunding. Pekerja platform harus dijamin hak konstitusionalnya untuk membentuk serikat, melakukan perundingan kolektif, serta menyampaikan aspirasi tanpa intimidasi maupun ancaman sanksi sepihak.

Ketiga, Jaminan Sosial, Kesehatan, dan Upah Layak. SEPETA menegaskan bahwa tidak boleh ada pekerja platform yang dipaksa bekerja tanpa perlindungan yang memadai. Negara dan perusahaan platform harus bertanggung jawab menyediakan upah layak, jaminan kesehatan, perlindungan kecelakaan kerja, serta sistem perlindungan sosial yang menyeluruh.

Keempat, Perlindungan Privasi dan Data Pribadi. Di tengah berkembangnya ekonomi digital, data pekerja tidak boleh diperlakukan hanya sebagai komoditas bisnis. Pekerja platform memiliki hak atas keamanan dan perlindungan data pribadinya.

Kepala Departemen Pendidikan dan Propaganda SEPETA yang turut hadir sebagai perwakilan Indonesia dalam konferensi tersebut, Bangun Nugroho, menegaskan bahwa momentum ILC 2026 merupakan kesempatan bersejarah bagi pekerja platform untuk memperjuangkan hak-haknya di tingkat global.

“Selama ini jutaan driver online, kurir, dan pekerja platform menjadi tulang punggung ekonomi digital, namun belum mendapatkan perlindungan yang setara dengan kontribusi yang mereka berikan. Kehadiran SEPETA di Jenewa adalah bentuk tanggung jawab untuk memastikan suara mereka didengar dunia internasional dan masuk dalam standar perlindungan ketenagakerjaan global,” ujar Bangun Nugroho.

Menurutnya, perjuangan yang dilakukan SEPETA tidak hanya untuk kepentingan pekerja platform Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan internasional untuk menciptakan ekosistem kerja digital yang lebih adil, manusiawi, dan berkelanjutan.

“Resolusi BASECAME yang kami bawa merupakan refleksi dari kebutuhan nyata pekerja platform. Kami berharap hasil konferensi ini dapat menjadi tonggak lahirnya kebijakan internasional yang mampu mengakhiri berbagai bentuk eksploitasi digital dan menghadirkan keadilan bagi pekerja platform di seluruh dunia,” tambahnya.

Melalui partisipasi aktif dalam ILC 2026, SEPETA menegaskan komitmennya untuk terus mengawal setiap proses pembahasan hingga lahirnya standar internasional yang benar-benar memberikan perlindungan dan kepastian bagi pekerja platform. Bagi SEPETA, perjuangan ini bukan hanya tentang hari ini, melainkan tentang masa depan jutaan pekerja digital yang menjadi bagian penting dari perekonomian global. (Lucia/Red/Pi)

Loading