Reaktor Nuklirnya Di Bom Amerika, Iran Siapkan Skenario Serangan Balasan?

Internasional594 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM | (Tangerang) – Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melakukan intervensi militer ke Iran, guna membantu sekutunya Israel menyerang Iran akhirnya terlaksana, Minggu (22/6/2025).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengumumkan kesuksesan pengeboman tiga lokasi nuklir Iran. Washington akhirnya secara efektif membela mati-matian Israel dan ikut bergabung dalam perang Israel melawan Iran.

“Kami telah menyelesaikan serangan yang sangat sukses terhadap tiga lokasi nuklir di Iran, termasuk Fordow, Natanz, dan Esfahan. Semua pesawat kini berada di luar wilayah udara Iran,” tulis Trump dalam platform akun media Social X miliknya.

Pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump itu disiarkan televisi pada Minggu pagi (22/6). Trump mengatakan bahwa “serangan itu merupakan keberhasilan militer Amerika yang spektakuler”.

GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP) Adalah Bom Penghancur Bunker Fasilitas Nuklir Iran

Berdasarkan laporan media AS menunjukkan, bahwa tentara AS menjatuhkan bom “penghancur bunker” dari kapal selam angkatan laut yang menembakkan beberapa rudal jelajah. GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP) adalah bom penghancur bunker.

Dengan dukungan pesawat pengebom siluman Amerika B-2 Spirit, merupakan satu-satunya pesawat yang dirancang untuk menyebarkan GBU-57. Hampir setengah lusin pembom B-2 dilaporkan menjatuhkan selusin bom penghancur bunker seberat 13.000 kg di lokasi Fordow,

Pesawat B-2 Spirit dapat membawa dua bom penghancur bunker pada satu waktu, juga dapat menjatuhkan beberapa bom secara berurutan, yang memungkinkan setiap serangan untuk mencapai target lebih dalam. Ini juga menandai pertama kalinya AS menggunakan MOP dalam pertempuran.

Berikut ini tiga lokasi nuklir Iran yang di Bom Amerika Serikat tersebut:

1. Fordow, adalah fasilitas pengayaan uranium Iran di bawah tanah yang dijaga ketat, dilaporkan terkubur ratusan meter di pegunungan dekat Qom, di wilayah barat laut Iran. Situs ini dirancang untuk menampung hingga 2.976 sentrifus berputar, menurut Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

2. Natanz, adalah kompleks pengayaan uranium terbesar di Iran, yang berisi ruang-ruang sentrifus yang luas, beberapa di antaranya berada di bawah tanah. Kompleks ini telah menjadi pusat utama program nuklir Iran dan lokasinya ada upaya sabotase di masa lalu. Lokasi ini terkena serangan Israel pada gelombang pertama serangan pada tanggal 13 Juni lalu.

3. Isfahan, merupakan pusat penelitian dan produksi nuklir penting yang mencakup fasilitas konversi uranium dan pabrik pembuatan bahan bakar. Pusat ini berperan penting dalam menyiapkan bahan baku untuk pengayaan dan penggunaan reaktor nuklir Iran.

Teheran meningkatkan pengayaan Uraniumnya setelah Trump keluar dari perjanjian nuklir penting pada tahun 2015. Dimana Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) pada tahun 2018 yang telah membatasi aktivitas nuklir Iran .

Selama bertahun-tahun ini Israel dan AS menuduh Iran telah mengembangkan senjata nuklir, akan tetapi Iran tetap bersikeras membantah tuduhan tersebut, dan program nuklirnya adalah untuk tujuan sipil.

Hal ini didukung oleh Kepala IAEA Rafael Grossi, yang juga menolak klaim tuduhan Israel dan AS, bahwa Teheran hampir membuat bom atom. Sama persis ketika AS menuduh Presiden Saddam Hussein yang berkuasa di Irak tahun 1979, dengan tuduhan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal (WMD) termasuk nuklir.

Tuduhan Senjata Pemusnah Massal Ke Irak

Pada awal tahun 2000-an, AS dan sekutunya, termasuk Israel, menuduh Irak masih memiliki senjata pemusnah massal, termasuk senjata nuklir, kimia, dan biologi, meskipun Irak telah menyatakan bahwa mereka telah menghancurkan semua senjata tersebut. Tuduhan ini menjadi salah satu alasan utama bagi AS untuk melakukan invasi ke Irak pada tahun 2003.

Invasi AS ke Irak (2003)

Pada Maret 2003, AS dan sekutunya melancarkan invasi ke Irak dengan dalih menghancurkan senjata pemusnah massal dan menggulingkan rezim Saddam Hussein. Namun, setelah invasi, tidak ditemukan bukti yang signifikan tentang keberadaan senjata pemusnah massal di Irak.

Konsekuensi Invasi AS Ke Irak

Invasi AS ke Irak memiliki konsekuensi yang luas, termasuk destabilisasi wilayah, meningkatnya kekerasan sektarian, dan dampak kemanusiaan yang signifikan. Konflik ini juga memicu perdebatan internasional tentang legitimasi invasi dan peran PBB dalam mengautorisasi tindakan militer.

Peran Israel

Israel memang tidak secara langsung terlibat dalam invasi AS ke Irak pada tahun 2003 lalu, tetapi mereka memiliki kepentingan strategis regional dalam melihat Irak dilemahkan. Israel telah lama mengkhawatirkan potensi ancaman dari Iran, terutama terkait program senjata nuklir.

Serangan Amerika membantu zionis Israel yang berlindung di ketiak Amerika untuk menyerang reaktor nuklir Iran, telah memicu kekhawatiran akan eskalasi serius di kawasan Timur Tengah.

Peristiwa ini mengingatkan kita pada kehancuran di Irak setelah invasi AS tahun 2003. Begitupun dengan rencana Netanyahu menggulingkan Pemimpin Tertinggi Spiritual Iran Ayatullah Ali Khamenei, dengan mengajak AS dan negara G7 untuk membantu menyerang Iran.

Bagaimana Iran Akan Membalas?

Beberapa jam setelah pengeboman AS, Iran meluncurkan rentetan rudal baru yang menghantam sebagian wilayah Israel di Tel Aviv dan Haifa. Setidaknya sebanyak 86 orang terluka, kata para pejabat setempat.

Adam Weinstein, wakil direktur program Timur Tengah di Quincy Institute for Responsible Statecraft, mengatakan AS sekarang berisiko terseret ke dalam perang berkepanjangan di Timur Tengah. Pada hari Minggu (22/6). Iran mengerahkan salah satu rudal tercanggihnya, Kheibar Shekan, saat melakukan serangan terhadap Israel.

Stephen Zunes, direktur studi Timur Tengah di Universitas San Francisco, memaparkan beberapa opsi yang tersedia bagi Iran sebagai respons terhadap serangan AS yang sedang berlangsung. “Mereka dapat menyerang pasukan AS secara langsung. Ada hingga 40.000 warga Amerika dalam jangkauan, bukan hanya rudal Iran tetapi juga drone dan persenjataan lainnya,” katanya.

“Armada berada di Teluk Persia, tepat di lepas pantai Iran. Mereka juga bisa rentan jika menyerang,” kata Zunes, menggunakan nama lain untuk Teluk Persia, yang juga disebut Teluk Arab. “Hal itu dapat memengaruhi pengiriman global, harga minyak, dan seluruh ekonomi global.”

Apa Tanggapan Iran Setelah Reaktor Nuklirnya Di Serang AS?*

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengecam serangan AS dan mengatakan Teheran berhak untuk menanggapi. Aragchi mengatakan, bahwa Trump telah “mengkhianati” warga Amerika yang telah dijanjikan akan mengakhiri keterlibatan AS dalam perang Timur Tengah.

Dalam sebuah pernyataan yang diunggah pada akun X, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, bahwa AS telah melakukan pelanggaran berat terhadap Piagam PBB, hukum internasional, dan NPT dengan menyerang instalasi nuklir damai Iran.

“Peristiwa pagi ini keterlaluan dan akan memiliki konsekuensi yang kekal. Setiap anggota PBB harus waspada atas perilaku yang sangat berbahaya, melanggar hukum, dan kriminal ini,” ujar Araghchi.

“Sesuai dengan Piagam PBB dan ketentuan-ketentuannya yang memperbolehkan tanggapan yang sah dalam pembelaan diri, Iran memiliki semua pilihan untuk mempertahankan kedaulatan, kepentingan, dan rakyatnya,” tambah Araghchi.

Sementara itu pada konferensi pers hari Minggu (22/6), menteri luar negeri Iran mengatakan, waktu untuk diplomasi telah berlalu dan negaranya memiliki hak untuk membela diri.

“Dunia tidak boleh lupa bahwa Amerika Serikat-lah yang di tengah proses diplomatik, mengkhianati diplomasi”, dengan mendukung “tindakan agresif” Israel, dan sekarang melancarkan “perang berbahaya terhadap Iran”, kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita semi-resmi Tasnim.

“Pemerintah Washington yang suka menghasut perang dan melanggar hukum, bertanggung jawab sepenuhnya atas konsekuensi berbahaya dan implikasi yang luas dari tindakan agresinya,” katanya.

“Republik Islam Iran menganggap berhak untuk melawan dengan sekuat tenaga agresi militer AS dan kejahatan yang dilakukan oleh rezim jahat ini, dan untuk membela keamanan dan kepentingan nasional Iran,” tambahnya.

Kemungkinan Iran Keluar Dari Perjanjian Nuklir

Iran kemungkinan juga akan bergerak maju untuk menarik diri dari NPT. Abbas Golroo, kepala komite kebijakan luar negeri parlemen, mengatakan Teheran memiliki hak hukum untuk menarik diri dari NPT menyusul serangan AS.

Teheran telah mengancam akan meninggalkan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), yang bertujuan untuk mencegah penyebaran senjata nuklir dan mempromosikan penggunaan energi nuklir secara damai.

Pasal 10 menyatakan bahwa negara anggota NPT “memiliki hak untuk menarik diri dari Perjanjian jika negara tersebut memutuskan bahwa peristiwa luar biasa telah membahayakan kepentingan tertinggi negaranya”.

Sementara itu Antonio Guterres, Sekjen PBB, mengatakan dia sangat khawatir dengan serangan AS terhadap Iran.

“Ini adalah eskalasi yang berbahaya di kawasan yang sudah berada di ambang bahaya dan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional. Ada risiko yang semakin besar bahwa konflik ini dapat dengan cepat lepas kendali, dengan konsekuensi yang sangat buruk bagi warga sipil, kawasan, dan dunia,” kata Guterres.

(Guskur/Red/PI)

Loading