PATRAINDONESIA.COM, (Tangerang) – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali menimbulkan keresahan.Tidak hanya driver ojek online (ojol), tetapi juga kurir pengantar barang yang setiap hari bergantung pada kendaraan bermotor.
Biaya operasional melonjak, sementara tarif layanan belum menyesuaikan. Kondisi ini membuat penghasilan mereka tergerus dan memunculkan tuntutan akan kebijakan yang lebih berpihak.
Suara Driver Ojol
Purwanto (53), driver ojol di Kabupaten Tangerang, mengaku penghasilannya menurun sejak harga BBM naik.
“Penghasilan saya jelas berkurang. Order tetap sama, tapi biaya bensin naik. Kalau dulu bisa bawa pulang Rp200 ribu sehari, sekarang paling Rp150 ribu,” ujarnya.
Ia menambahkan, biaya operasional harian meningkat karena sekali isi bensin kini lebih mahal Rp10 ribu–Rp15 ribu. Untuk menyiasati kondisi ini, ia memilih order jarak dekat dan bekerja lebih lama hingga malam. Meski demikian, ia menilai tarif aplikasi ojol belum menyesuaikan dengan kenaikan harga BBM. “Harapan kami aplikasi bisa menyesuaikan tarif, supaya driver tidak rugi,” katanya.
Suara Kurir
Hadi (39), kurir paket di wilayah Kota Tangerang, juga merasakan dampak serupa.
“Setiap hari saya harus keliling antar paket. BBM naik, tapi ongkos kirim tetap. Akhirnya penghasilan bersih berkurang. Kalau dulu bisa sisihkan Rp100 ribu sehari, sekarang paling Rp70 ribu,” ungkapnya.
Menurut Hadi, beban biaya operasional semakin berat karena kurir tidak bisa memilih jarak pengantaran. “Kalau orderan jauh tetap harus diantar. Jadi bensin boros, tapi bayaran sama,” tambahnya. Ia berharap perusahaan jasa ekspedisi segera menyesuaikan tarif pengiriman agar kurir tidak semakin tertekan. “Kami ini ujung tombak layanan, kalau terus rugi bisa banyak kurir berhenti,” tegasnya.
Driver ojol Ayah Beno dari keluarga besar R’SKL (Rumah Silaturahmi Kawan Lama) menegaskan keresahan komunitas ojol atas kenaikan BBM Pertamax.
“Dampak kenaikan BBM ini sangat merugikan masyarakat kecil. Pendapatan ojol tidak menentu, sementara harga Pertamax melonjak dari Rp12 ribu menjadi Rp16 ribu per liter. Pemerintah seolah tidak memikirkan rakyatnya,” ujarnya.Karena harga Pertamax terlalu tinggi, ia terpaksa beralih ke Pertalite. “Kalau tetap pakai Pertamax, sama saja kerja bakti. Penghasilan tidak seimbang dengan biaya bensin,” tambahnya.
Ayah Beno juga menyoroti aplikasi ojol dan kurir yang belum menyesuaikan tarif. “Belum ada solusi dari aplikasi. Argopun belum naik. Bagaimana rakyat tidak semakin susah kalau pemerintahnya tidak berpihak,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah segera menurunkan kembali harga Pertamax. “Kalau pun naik, jangan terlalu besar. Kenaikan Rp1.000 masih bisa dipertimbangkan. Pemerintah harus memikirkan rakyatnya,” pungkasnya
Situasi di SPBU
Selain menimbulkan keresahan di kalangan pengemudi, kenaikan BBM juga memicu antrian panjang di sejumlah SPBU. Pantauan tim PatraIndonesia.com pada Rabu sore (10/6/2016) memperlihatkan antrian yang sebelumnya sepanjang 15 meter kini mengular hingga 30 meter di SPBU Tambora, Jakarta Barat. Kondisi ini menunjukkan tingginya tekanan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar sehari-hari.
Pernyataan Purwanto, Hadi, dan Ayah Beno menegaskan bahwa kenaikan BBM bukan sekadar angka di papan harga, melainkan persoalan nyata yang memengaruhi keberlangsungan hidup ribuan pengemudi ojol dan kurir. Suara mereka mencerminkan realitas masyarakat yang berjuang di tengah kebijakan energi yang belum sepenuhnya berpihak pada rakyat kecil.
Melalui liputan ini, PatraIndonesia.com mengajak pembaca untuk melihat lebih dekat dampak kebijakan energi terhadap masyarakat kecil — kisah nyata perjuangan para pekerja transportasi yang terus beradaptasi demi bertahan hidup.(Guskur/Red/PI)
![]()

