PATRAINDONESIA.COM (JAKARTA) – Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPN APTI) mendesak pemerintah segera turun tangan menyelamatkan petani tembakau di tengah puncak musim panen. Desakan itu disertai ancaman langkah hukum jika tuntutan tidak dipenuhi dalam 7×24 jam.
DPN APTI menilai harga beli tembakau saat ini berada di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP) riil. Kondisi itu, kata DPN APTI, diperparah keterbatasan modal, cuaca ekstrem, dan ketimpangan rantai pasok antara petani di hulu dengan industri di hilir.
“Negara wajib hadir secara mutlak demi menegakkan keadilan substantif. Jangan biarkan korporasi meraup laba super fantastis di atas kuburan ekonomi jutaan petani tembakau,” tegas Ketua Bidang Advokasi DPN APTI, Adv. Eko Puguh, S.H., M.H., Selasa (05/8/2026).
Menurut Eko, penerimaan negara dari Cukai Hasil Tembakau (CHT) tidak boleh dijadikan alasan untuk menekan harga di tingkat petani. Ia menyebut praktik tersebut sebagai bentuk pengabaian negara terhadap sektor pertanian strategis.
Untuk membenahi tata niaga, DPN APTI mengusulkan tiga langkah konkret. Pertama, subsidi atau dana stabilisasi berbasis penerimaan cukai. Kedua, pemisahan beban fiskal pabrikan dari harga beli tembakau. Ketiga, pembentukan lembaga pembeli independen yang menetapkan harga mengacu pada HPP budidaya.
Selain itu, DPN APTI mendesak Presiden dan Menteri Pertanian menetapkan “floor price” atau harga dasar minimum tembakau lokal, serta membatasi kuota impor selama musim panen.
DPN APTI menyatakan telah menyiapkan langkah hukum. Somasi terbuka akan dilayangkan kepada pabrik rokok skala besar dan kementerian terkait dengan tenggat waktu 7×24 jam.
Organisasi itu juga akan mengadukan dugaan praktik monopsoni dan oligopsoni dalam tata niaga tembakau ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Opsi gugatan Perbuatan Melawan Hukum oleh Penguasa terhadap kementerian terkait juga tengah dikaji.
“Perjuangan kami tetap di jalur hukum dan konstitusional. Tapi jika tidak ada respons, konsolidasi gerakan petani dari berbagai daerah tidak bisa dihindari,” ujar Eko.
DPN APTI menegaskan, menyelamatkan petani tembakau bukan hanya soal ekonomi, tetapi menyangkut keberlangsungan hidup jutaan keluarga petani di sentra-sentra produksi. (*/Red/PI).
![]()

