Bencana Banjir Paling Sadis Dekade Ini: Kota Langkat Lumpuh Total. Makoramil-14 Besitang Tenggelam, Desa-desa Menghilang di Bawah Air… 

Bencana755 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM (Langkat) – Kabupaten Langkat kembali berduka. Hujan tanpa jeda selama empat hari berturut-turut mengubah kawasan pesisir hingga pedalaman menjadi lautan air bercampur lumpur, sampah, dan batang-batang kayu besar yang terbawa dari hulu. Di tengah kekacauan itu, satu pemandangan membuat banyak orang terdiam: Makoramil-14 Besitang tenggelam nyaris sepenuhnya.

Dari pantauan udara yang diambil relawan, markas TNI yang selama ini menjadi pusat pengamanan wilayah itu hanya menyisakan atap seng hijau dengan tulisan “KORAMIL 14”. Tidak ada dinding, tidak ada halaman, tidak ada pagar semuanya lenyap di bawah permukaan air kecokelatan yang terus naik perlahan namun pasti.

Seolah alam sedang menunjukkan seberapa kecil manusia ketika amarahnya datang.

Sejak Minggu dini hari hingga Rabu (23–26/2025), Langkat diguyur hujan deras tanpa henti. Langit seakan digantungkan segumpal awan hitam yang tak mau bergerak. Tanpa jeda, tanpa celah, tanpa memberi kesempatan bagi tanah mengering walau sekejap.

Sungai-sungai besar di pesisir Teluk Haru yang biasanya mengalir tenang mendadak berubah menjadi monster air yang meluapkan seluruh bebannya ke desa-desa di sekitarnya.

Air merangsek masuk ke jalan-jalan utama, meruntuhkan tanggul, merobek pekarangan warga, dan mengubah rumah-rumah menjadi pulau-pulau kecil yang kemudian ikut tenggelam.

Di Desa Sekoci dan Kampung Sawah wilayah yang mengalami dampak terburuk situasinya jauh lebih parah dari sekadar banjir biasa. Di beberapa sudut desa, genangan mencapai dua hingga tiga meter, Rumah panggung tenggelam, rumah beton tenggelam, masjid tenggelam, sekolah tenggelam.

Beberapa warga bahkan melaporkan bahwa air “datang seperti hewan liar”. Bukan naik perlahan, tetapi menghantam dalam gelombang akibat luapan sungai dan aliran lumpur dari perbukitan.

“Hujan tiga hari tiga malam tanpa kasihan. Sudah sampai bubungan tingginya,” kata Edwar Tambunan, warga Kampung Sawah yang rumahnya hanya menyisakan ujung genteng. Air naik begitu cepat hingga ia harus berpegangan pada rangka atap agar tidak terseret arus.

Rumah tetangganya yang berada lebih rendah hanyut sepenuhnya. Tidak tersisa apa pun selain kursi plastik yang mengambang tanpa arah.

Pada malam hari ketika hujan mencapai titik terlebat, banyak warga terjebak di dalam rumah. Lampu padam. Listrik mati total. Hanya suara air menghantam dinding dan suara barang-barang yang terjatuh terdengar bersahut-sahutan.

Seorang ibu dari Sekoci bercerita bagaimana ia menggendong dua anaknya sambil berdiri di atas lemari yang sudah mulai goyah.

Seorang kakek harus berenang bersama cucunya keluar jendela, karena pintu rumah tidak bisa dibuka akibat tekanan air dari luar.

Di beberapa titik, warga terpaksa naik ke atap sambil melambaikan kain untuk meminta pertolongan. Relawan datang menggunakan perahu karet di tengah hujan deras dan arus kuat yang sewaktu-waktu bisa membalikkan perahu.

Bencana ini tidak hanya memutus rumah warga kantor aparat pun lumpuh. Koramil 12 Gebang dan Polsek Gebang ikut dikepung air hingga aktivitas dihentikan. Anggota TNI dan Polri sibuk memindahkan senjata, dokumen, dan perangkat penting ke tempat yang lebih tinggi.

Salah satu anggota TNI yang ikut evakuasi sempat berkata dengan napas terengah:

“Ini pertama kalinya sejak saya bertugas, markas kami tenggelam. Tapi kami tak bisa memikirkan itu. Kami fokus selamatkan warga dulu.”

Semua kendaraan dinas yang tidak sempat dipindahkan basah hingga kap mesin. Mobil patroli hanyut beberapa meter sebelum tersangkut pohon.

Factor alam memperburuk keadaan: tingginya curah hujan dari hulu bertemu air pasang dari Teluk Haru. Kombinasi mematikan itu membuat air tak punya tempat mengalir. Volume naik, tekanan meningkat, dan dalam hitungan jam desa-desa di pesisir Langkat lenyap di bawah permukaan air.

Kawasan yang biasanya jadi jalur distribusi logistik kini berubah jadi lautan luas tanpa batas.

Relawan harus menembus arus yang deras, sementara beberapa rumah terlihat hampir “berlayar” karena pondasinya terangkat.

Posko utama didirikan di beberapa lokasi yang masih aman. Tenda-tenda darurat semakin padat seiring datangnya gelombang pengungsi.

Beberapa keluarga kehilangan kontak satu sama lain saat evakuasi. Anak-anak berbalut selimut tipis duduk gemetar. Air bersih sulit didapat. Logistik belum menjangkau desa yang terisolasi, Relawan medis melaporkan mulai muncul kasus hipotermia ringan dan infeksi kulit akibat air kotor.

Pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat, namun upaya evakuasi dan bantuan terkendala kondisi cuaca dan akses. Banyak jalan putus, jembatan hilang, dan sinyal komunikasi timbul-tenggelam.

Banjir 2025 ini disebut sejumlah pihak sebagai salah satu yang paling menghancurkan dalam sejarah Langkat bukan hanya karena meluasnya wilayah terdampak, tetapi juga karena fasilitas vital ikut tenggelam.

Markas TNI tenggelam, Polsek terkepung, Desa hilang, Rumah hanyut, Warga terpencar.

Langkat, dari Teluk Haru hingga pedalaman, kini berada di bawah bayang-bayang bencana yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Loading