Dari Kolong Tol ke Mimbar Sosial: Warga Ikuti Pengajian Bahas Pinjol dan Judi Online

Patra News176 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM – JAKARTA – Di bawah bentang beton Tol Pesanggrahan, Jakarta Selatan, aktivitas warga pada Minggu malam, mengambil bentuk yang tidak biasa. Ratusan orang berkumpul dalam sebuah pengajian yang digelar Majelis Mutiara Religi Jalanan, menjadikan ruang terbuka itu sebagai tempat refleksi atas persoalan yang kian mengemuka: pinjaman online dan judi online.

Tidak sekadar menjadi forum keagamaan, pengajian ini berfungsi sebagai ruang diskusi sosial yang menyoroti dampak ekonomi dan psikologis dari dua fenomena digital tersebut.

Penceramah Endang Irawan menempatkan isu pinjol dan judi daring dalam kerangka yang lebih luas. Ia menyebut, persoalan itu bukan hanya terkait utang atau kerugian finansial, melainkan juga menyentuh dimensi moral dan spiritual.

“Rezeki yang sedikit namun berkah jauh lebih menyelamatkan daripada uang jutaan hasil judi atau pinjaman riba yang mencekik. Allah tidak melihat seberapa besar digit di saldo rekeningmu, tapi dari mana asal uang itu dan bagaimana ia didapatkan. Harta yang haram hanya akan menjadi api di dalam rumah tangga kita,” ujarnya disela-sela pengajian (19/04).

Dalam paparannya, ia mengangkat konsep istidraj untuk menjelaskan pola yang kerap terjadi pada pelaku judi online. Kemenangan di tahap awal, menurut dia, sering menjadi pintu masuk yang membuat seseorang terus terlibat hingga mengalami kerugian lebih besar.

“Jangan tertipu dengan kemenangan awal. Itu adalah istidraj. Allah membiarkanmu merasa menang agar kamu semakin jauh tersesat, hingga akhirnya kamu kehilangan segalanya harta, keluarga, hingga iman,” kata Endang.

Ia juga menyinggung kecenderungan masyarakat terhadap solusi instan di tengah kemajuan teknologi digital. Dalam konteks ini, ia menekankan pentingnya sikap sabar dan syukur sebagai penyeimbang.

“Obat dari pinjol bukan pinjaman baru, tapi syukur. Jika kita bersyukur, yang sempit akan terasa lapang. Jika kita kufur, yang luas akan terasa menyesakkan,” tuturnya.

Pengajian di kolong tol ini mencerminkan upaya komunitas dalam membawa pesan keagamaan ke ruang-ruang publik yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjangkau kelompok yang selama ini tidak tersentuh forum formal.

Menutup ceramahnya, Endang mengajak jamaah untuk mengambil langkah konkret menjauhi praktik yang dinilai merugikan tersebut.

“Selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka digital. Hentikan klik judi itu, hapus aplikasi pinjaman itu, dan kembalilah bersujud,” ujarnya.

Kegiatan ditutup dengan seruan kolektif untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap pinjaman online ilegal dan judi daring, sekaligus memperkuat nilai keimanan sebagai respons atas tantangan sosial di era digital.

Loading