Blood Moon Hiasi Langit, BMKG, Totalitas Berlangsung 82 Menit

Nasional486 Dilihat

Photo : Dok RRI.co.id

 

PATRAINDONESIA.COM (Muara Teweh) – Malam ini, Minggu (07/09/2025), masyarakat Indonesia dapat menyaksikan Fenomena langit langka berupa Gerhana Bulan Total atau yang dikenal dengan sebutan Blood Moon.

Menurut keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dikutip Detik.com, seluruh rangkaian gerhana ini akan berlangsung selama 5 jam 29 menit 48 detik, dengan fase totalitas mencapai 1 jam 22 menit 56 detik.

“Gerhana penumbra mulai terjadi pukul 23.26 WITA, disusul gerhana sebagian pukul 00.26 WITA, dan fase total dimulai pukul 01.30 WITA. Puncaknya berlangsung pukul 02.11 WITA, sebelum berakhir sepenuhnya pada pukul 04.56 WITA,” tulis BMKG dalam rilis yang dikutip Lemburanyar.id.

Fenomena ini terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga cahaya Matahari yang biasanya menyinari Bulan terhalang oleh bayangan Bumi. Sky at Night Magazine menjelaskan, warna Merah tembaga yang terlihat pada permukaan Bulan merupakan efek dari pembelokan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi (Rayleigh scattering).

Situs Timeanddate.com mencatat, gerhana ini dapat disaksikan dari sebagian besar wilayah Asia, Australia, Afrika, hingga Eropa.

Sementara Times of India menulis bahwa totalitas malam ini akan menjadi salah satu yang terlama dalam dekade ini, yaitu sekitar 82 menit.

Tidak diperlukan alat khusus untuk mengamati fenomena ini.

“Gerhana Bulan aman disaksikan dengan mata telanjang, berbeda dengan Gerhana Matahari yang membutuhkan kacamata khusus,” tulis Space.com dalam artikelnya.

Namun, bagi yang ingin mengabadikan momen, Times of India memberi tips sederhana: gunakan tripod untuk kestabilan, aktifkan mode malam pada kamera ponsel, dan atur fokus serta pencahayaan secara manual.

 

Selain dimaknai secara ilmiah, sebagian masyarakat juga melihatnya dari sudut pandang spiritual.

The Cut menuliskan bahwa gerhana kali ini berlangsung saat Bulan berada di zodiak Pisces, yang secara astrologi dianggap sebagai momen refleksi dan pelepasan energi lama.

Observatorium Bosscha menggelar livestream gerhana bulan total bersama 22 titik pengamatan dari komunitas astronomi di seluruh Indonesia, termasuk Kupang, Maumere, Malang, Yogyakarta, Jakarta, Lampung, Aceh, hingga Singapura. Semua titik pengamatan akan terhubung secara bersamaan untuk berbagi pengalaman melihat gerhana.

Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat betapa luar biasanya alam semesta.

“Gerhana bulan total adalah salah satu tontonan langit paling menakjubkan yang bisa disaksikan semua orang tanpa teleskop,” tulis Sky at Night Magazine.

Dikutip dari berbagai sumber.

(Anti/Red/PI)

Loading