Contraflow Jelang Nataru 2025/26 Dimulai Jumat 19 Desember 2025

Patra News134 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM(Jakarta) – Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, pemerintah mulai memberlakukan rekayasa lalu lintas di sejumlah ruas tol utama sejak kemarin, Jumat (19/12/2025). Salah satu skema yang diterapkan ialah sistem lajur pasang surut atau contraflow, sebagai langkah antisipasi terhadap peningkatan volume kendaraan selama periode libur akhir tahun.

Kebijakan tersebut merupakan hasil koordinasi Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Korlantas Polri, dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), yang tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB).

Adapun SKB tersebut berisikan tentang Pengaturan Lalu Lintas Jalan serta Penyeberangan selama Masa Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Rekayasa lalu lintas ini disiapkan untuk menjaga kelancaran mobilitas masyarakat, baik yang melakukan perjalanan jarak jauh maupun aktivitas wisata selama libur panjang. Dikutip dari laman resmi Kemenhub, berikut jadwal dan lokasi penerapan sistem contraflow selama libur Nataru 2025/2026

Tol Jakarta–Cikampek dan Jagorawi
1. Tol Jakarta–Cikampek (Arah Cikampek | KM 47 – KM 70)

-19 Desember 2025: 16.00–24.00 WIB
-23 Desember 2025: 16.00–24.00 WIB
– 24 Desember 2025: 16.00–24.00 WIB
– 26 Desember 2025: 06.00–14.00 WIB
– 28 Desember 2025: 06.00–14.00 WIB

2. Tol Jakarta–Cikampek (Arah Jakarta | KM 70 – KM 47)

-21 Desember 2025: 18.00–24.00 WIB
-26 Desember 2025: 18.00–24.00 WIB
-27 Desember 2025: 18.00–24.00 WIB
-28 Desember 2025: 18.00–24.00 WIB
-29 Desember 2025 – 1 Januari 2026: 00.00-08.00 WIB dan 18.00-24.00 WIB

3. Tol Jagorawi (Arah Jakarta | KM 21 – KM 8)

-21 Desember 2025: 14.00–19.00 WIB
-23–26 Desember 2025: 14.00–19.00 WIB
-2–4 Januari 2026: 14.00–19.00 WIB

Demikian Langkah Darurat yang Harus Dilakukan Untuk mendukung kelancaran arus kendaraan, seluruh pekerjaan konstruksi di sekitar ruas tol dihentikan sementara mulai 16 Desember 2025 pukul 00.00 WIB hingga 4 Januari 2026 pukul 24.00 WIB.

Selain contraflow, pemerintah juga membuka kemungkinan penerapan rekayasa lalu lintas tambahan, termasuk sistem satu arah (one way), yang bersifat situasional dan disesuaikan dengan kondisi lalu lintas di lapangan.

Yori/Red/PI

Loading