Masa Depan Jutaan Pekerja Platform Dipertaruhkan di Sidang ILO 2026

Patra News404 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM (Geneva, Swiss) — Perjuangan untuk menghadirkan perlindungan yang adil bagi pekerja platform digital memasuki fase penting dalam Sidang Konferensi Perburuhan Internasional (International Labour Conference/ILC) ke-114 yang berlangsung di Jenewa, Swiss. Setelah satu pekan penuh pembahasan, delegasi pekerja dari berbagai negara terus mengawal perundingan mengenai penyusunan instrumen internasional tentang pekerjaan layak di ekonomi platform digital.

Berlangsung di Gedung Centre International de Conférences Genève (CICG), perundingan yang melibatkan pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja itu berjalan dengan intensitas tinggi. Berbagai usulan perubahan dibahas secara rinci dalam proses yang sering berlangsung hingga larut malam. Perdebatan tajam mewarnai pembahasan sejumlah isu mendasar yang akan menentukan masa depan jutaan pekerja platform di seluruh dunia.

Salah satu pokok perdebatan yang paling krusial adalah status hubungan kerja pekerja platform digital. Selain itu, persoalan remunerasi, termasuk sistem pembayaran, pembebanan biaya operasional, waktu kerja, dan berbagai bentuk pengurangan pendapatan pekerja, menjadi isu yang terus dipertentangkan dalam ruang sidang.

Di tengah proses yang berlangsung alot, kehadiran pekerja platform dari berbagai negara memberikan warna tersendiri dalam pembahasan. Perwakilan pekerja dari Kenya, Nigeria, Indonesia, Thailand, Brasil, Chili, Peru, Kolombia, Panama, Meksiko, dan sejumlah negara lainnya aktif menyampaikan pengalaman nyata yang mereka hadapi dalam pekerjaan sehari-hari.

Mereka datang dari beragam sektor pekerjaan platform, mulai dari pengemudi transportasi daring, kurir pengantar barang, moderator konten digital, pekerja rumah tangga berbasis aplikasi, hingga pelabel data. Kesaksian dan pengalaman tersebut menjadi landasan penting dalam mendorong lahirnya regulasi internasional yang mampu menjawab persoalan nyata di lapangan.

Delegasi Serikat Pengemudi Transportasi Indonesia (SEPETA), Bangun Nugroho, turut mengambil bagian dalam berbagai diskusi dan forum pekerja selama sidang berlangsung. Dalam berbagai kesempatan, ia menyampaikan kondisi yang dihadapi jutaan pengemudi dan kurir platform digital di Indonesia, mulai dari ketidakjelasan status hubungan kerja, tingginya potongan aplikasi, mekanisme sanksi dan penonaktifan akun secara sepihak, hingga minimnya perlindungan sosial dan jaminan kerja.

Menurut SEPETA, kondisi tersebut menunjukkan bahwa banyak pekerja platform masih berada dalam posisi yang sangat rentan. Sistem pengelolaan berbasis algoritma yang tidak transparan kerap menempatkan pekerja pada situasi yang sulit untuk memperoleh keadilan ketika menghadapi diskriminasi, penurunan pendapatan, maupun pemutusan akses kerja secara sepihak.

Dalam forum ILO, pekerja menegaskan bahwa yang sedang diperjuangkan bukanlah pengaturan terhadap teknologi digital, melainkan perlindungan terhadap manusia yang bekerja melalui teknologi tersebut. Platform digital hanyalah sarana, sedangkan fokus utama perundingan adalah memastikan hak-hak pekerja terlindungi dan hubungan kerja berlangsung secara adil.

Gerakan pekerja internasional juga menegaskan bahwa mandat utama ILO adalah mewujudkan keadilan sosial dan perlindungan terhadap pekerja. Karena itu, instrumen internasional yang sedang dirumuskan harus berorientasi pada peningkatan kondisi kerja dan perlindungan hak-hak pekerja, bukan sekadar mengakomodasi kepentingan bisnis perusahaan platform.

Memasuki pekan kedua sidang, proses negosiasi diperkirakan masih akan berlangsung dinamis. Sejumlah isu strategis masih menunggu penyelesaian dan membutuhkan kesepakatan dari seluruh pihak yang terlibat.

Bagi SEPETA, kehadiran delegasi Indonesia dalam forum internasional ini menjadi bukti bahwa perjuangan pengemudi dan kurir online Indonesia telah menjadi bagian dari gerakan global untuk memperjuangkan pekerjaan yang layak, perlindungan sosial, serta penghormatan terhadap hak-hak pekerja platform di seluruh dunia.

Perundingan di Jenewa pada akhirnya bukan sekadar membahas dokumen dan rumusan norma internasional. Di balik setiap pasal yang dinegosiasikan, terdapat harapan dan masa depan jutaan pekerja yang menggantungkan hidupnya pada platform digital. (Lucia/Red/Pi)

Loading