Arak-Arakan Budaya Pengantin Adat Lampung Meriahkan HUT ke-81 RI di Desa Harapan Jaya

Patra News467 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM  (Pesawaran) – Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Harapan Jaya, Kecamatan Way Ratai, Kabupaten Pesawaran, dimeriahkan dengan berbagai kegiatan yang mengangkat kebersamaan masyarakat sekaligus melestarikan seni dan budaya daerah.

Salah satu yang menjadi ikon utama dalam rangkaian kegiatan tersebut adalah arak-arakan budaya pengantin adat Lampung atau Ngakhak. Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri karena menampilkan kekayaan adat Lampung melalui busana, musik tradisional, pencak silat, serta tata cara arak-arakan yang sarat makna.

Menariknya, Kepala Desa Harapan Jaya, Susalit Cokroaminoto, turut terlibat langsung dalam prosesi arak-arakan tersebut. Ia berperan sebagai pengantin pria atau Bunting, dengan gelar adat Adok Punayah Jaya. Sementara itu, pengantin perempuan atau Maju diperankan oleh istrinya, Pariyah Cokroaminoto, dengan gelar adat Adok Nimas Punayah Jaya.

Keterlibatan keduanya dalam prosesi adat tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan adat yang sebelumnya telah dilampungkan oleh Sutan Pusaka Agung. Kehadiran Kepala Desa bersama istri sebagai bagian dari arak-arakan menjadi bentuk nyata dukungan pemerintah desa terhadap pelestarian adat dan budaya Lampung di tengah masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, turut hadir sebagai tamu kehormatan Hadin Laksamana, salah satu tokoh adat Lampung di Way Ratai. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan terhadap upaya masyarakat dalam menjaga dan melestarikan adat serta budaya Lampung.

Kepala Desa Harapan Jaya, Susalit Cokroaminoto, menyampaikan bahwa kegiatan HUT RI tersebut dilaksanakan berdasarkan hasil musyawarah dan kepercayaan masyarakat.

“Kita meriahkan HUT ke-81 RI dengan mengadakan acara tersebut berdasarkan hasil musyawarah bersama tokoh yang ada di Desa Harapan Jaya,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa selain memeriahkan hari kemerdekaan, kegiatan tersebut memiliki tujuan penting untuk menjaga dan melestarikan seni budaya daerah.

“Tujuan kami untuk melestarikan seni dan budaya daerah,” tutupnya.

Prosesi arak-arakan diawali dengan Pincak Khakot, yakni pencak silat yang menggambarkan keteguhan, penjagaan, dan kesiapan menghadapi berbagai rintangan dalam perjalanan kehidupan.

Rombongan kemudian diiringi Butabuh, dengan suara rebana, kenong, dan gong serta lantunan doa maupun nasihat yang penuh makna. Suasana semakin meriah dengan kehadiran masyarakat yang mengikuti dan menyaksikan jalannya arak-arakan.

Sebagai pusat perhatian, Bunting atau pengantin pria dan Maju atau pengantin wanita tampil mengenakan busana adat Lampung Pesisir/Sabatin. Keduanya diiringi penakau dan pengawal di sisi kiri dan kanan rombongan.

Pengantin pria, Susalit Cokroaminoto dengan gelar Adok Punayah Jaya, tampil mengenakan mahkota Pujuk Tapis, sedangkan pengantin wanita, Pariyah Cokroaminoto dengan gelar Adok Nimas Punayah Jaya, mengenakan Siger Pesisir tujuh lekuk yang memiliki makna filosofis dalam adat Lampung. Perlengkapan dan busana tersebut sekaligus menjadi simbol kekayaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Selain arak-arakan budaya, rangkaian acara HUT ke-81 RI di Desa Harapan Jaya juga diisi dengan doorprize bagi masyarakat serta hiburan kuda lumping. Perpaduan antara tradisi adat, hiburan rakyat, dan semangat kemerdekaan membuat kegiatan berlangsung meriah dan penuh kebersamaan.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat rasa persatuan dan gotong royong. Di tengah perayaan kemerdekaan, masyarakat Desa Harapan Jaya menunjukkan bahwa semangat nasionalisme dapat berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap budaya daerah.

Arak-arakan pengantin adat Lampung menjadi ikon utama dalam kegiatan ini, sekaligus menjadi simbol kebanggaan masyarakat Desa Harapan Jaya dalam menjaga warisan budaya Lampung. Keterlibatan langsung Kepala Desa Susalit Cokroaminoto dan istrinya, Pariyah Cokroaminoto, semakin memperkuat pesan bahwa pelestarian adat bukan hanya tanggung jawab tokoh adat, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.

Melalui perayaan HUT ke-81 RI, masyarakat berharap tradisi dan kesenian Lampung tetap lestari, dikenal oleh generasi muda, serta terus menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di Kecamatan Way Ratai, Kabupaten Pesawaran.(Asen/Red/PI).

Loading