PATRAINDONESIA.COM | (Tangerang) — Ketegangan yang terjadi antara Israel dan Iran terus meningkat dalam 72 jam terakhir sejak kedua negara tersebut saling gempur, sehingga memicu kekhawatiran global akan pecahnya konflik regional yang lebih luas serta berkepanjangan.
Diberitakan dalam pertemuan darurat G7 yang digelar di Kananaskis, Kanada, para pemimpin dunia menyerukan de-eskalasi segera, akan tetapi pernyataan keras dari Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, serta Pemimpin Tertinggi Spiritual Iran Ayatullah Ali Khamenei justru memperlihatkan arah sebaliknya.
Pertemuan negara G7 yang dipimpin oleh Perdana Menteri Kanada Mark Carney menghasilkan pernyataan bersama yang menyebut, bahwa Iran sebagai “sumber utama ketidakstabilan regional” serta menegaskan dukungan penuh terhadap hak Israel untuk membela diri.
Kanselir Jerman Friedrich Merz menekankan bahwa tujuan utama G7 adalah mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir dan membuka ruang diplomasi. Akan tetapi, Presiden Donald Trump yang sempat meninggalkan KTT lebih awal untuk kembali ke Washington menyampaikan pernyataan mengejutkan.
Dalam unggahan di media sosialnya, Trump menyerukan “penyerahan tanpa syarat” dari Iran dan menyebut Ayatullah Khamenei sebagai “target mudah” yang saat ini “masih aman untuk sementara waktu,” Trump juga mengklaim bahwa AS kini memiliki “kendali penuh atas langit Iran” serta mempertimbangkan opsi serangan langsung ke Iran.
Statemen Israel dan Iran
Di sisi lain statemen dari pihak Israel, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan, bahwa “menghabisi” Khamenei akan menjadi jalan tercepat untuk mengakhiri konflik. Dalam kunjungannya ke pangkalan Angkatan Udara Israel, Netanyahu menegaskan bahwa Israel “sedang dalam jalur untuk menghancurkan ancaman nuklir dan rudal Iran, IAF kini menguasai langit Teheran”.
Pemimpin Tertinggi Spiritual Iran, Ayatullah Ali Khamenei dalam pernyataan publik pertamanya sejak serangan Israel menyatakan bahwa “pertempuran telah dimulai.” Dalam sebuah unggahan simboliknya di media sosial, ia menulis, “Ali kembali ke Khaybar,” merujuk pada penaklukan kota Yahudi oleh Imam Ali pada abad ke-7, yang ditafsirkan sebagai seruan jihad.
Informasi tersebut diterbitkan harian times of Israel dan Star tribun dalam sebuah jurnalnya. Pesan rekaman kepada rakyat Iran, Pemimpin Tertinggi Spiritual Iran Ali Khamenei juga bersumpah akan membalas “dengan hukuman yang berat” atas agresi yang dilakukan Isreal ke negara nya.
Sumber Militer Iran melalui IRGC, dimana Iran mengklaim telah meluncurkan gelombang baru rudal balistik ke arah Israel, yang menargetkan pangkalan udara serta pusat komando zionis Israel. Sementara itu, IDF menyatakan telah menghancurkan lebih dari 80 target di Iran, termasuk situs peluncuran rudal dan fasilitas pertahanan.
Analisis dari Pengamat Internasional
Pengamat internasional memperingatkan bahwa konflik ini telah memasuki fase yang sangat berbahaya. Menurut analisis dari Institute for the Study of War, Israel kemungkinan telah menghancurkan sepertiga peluncur rudal Iran, namun serangan balasan tetap berlanjut.
Kantor berita Reuters menyatakan bahwa Iran disebut telah menggunakan hingga setengah dari stok rudal jarak jauhnya. Analis dari Bimco dan S&P Global juga mencatat bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz mulai dihindari oleh kapal-kapal dagang karena risiko serangan meningkat.
Di tengah eskalasi atas meningkatnya korban sipil lebih dari 450 tewas di Iran dan 24 di Israel. Sehingga seruan internasional untuk gencatan senjata semakin nyaring digaungkan. Namun, baik Teheran maupun Yerusalem menolak negosiasi selama serangan masih berlangsung. Trump sendiri menyatakan bahwa ia tidak sedang dalam mood untuk bernegosiasi dan lebih memilih “akhir yang nyata, bukan sekadar gencatan senjata”.
Meskipun ada seruan untuk de-eskalasi, langkah konkret yang diambil lebih bersifat politis daripada diplomatis. G7 telah mengambil sikap tegas dalam konflik Israel-Iran, tetapi pendekatannya lebih condong ke dukungan terhadap Israel daripada upaya nyata untuk meredakan ketegangan.
Para pemimpin G7 cenderung mendukung Israel, dalam pernyataan bersama menyebutkan Iran sebagai sumber utama ketidakstabilan regional dan menegaskan, bahwa Israel memiliki hak untuk membela diri. Mereka juga menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Namun hingga saat ini, belum ada langkah nyata yang dilakukan dari G7 untuk alih-alih menengahi atau memfasilitasi perundingan damai antara Israel dan Iran. Fokus utama mereka tampaknya lebih pada dukungan terhadap Israel dan stabilitas ekonomi global daripada penyelesaian konflik secara diplomatis.
Dengan kedua belah pihak menolak mundur serta retorika yang semakin memanas, dunia kini menanti apakah diplomasi masih punya ruang, atau malah sebaliknya apakah Timur Tengah sedang menuju babak baru konflik berskala besar. (Guskur/Red/PI)
![]()

