Berdiri di Depan Jurang Resesi, Jangan Sampai Depresi

Nasional1433 Dilihat

Oleh: Apriyan Sucipto, SH., MH.

Pemerhati Sosial Politik, Budaya, dan Lingkungan Hidup

PATRAINDONESIA.COM (Jakarta) – Indonesia dan banyak negara di dunia kini tengah menghadapi bayang-bayang resesi ekonomi yang kian nyata. Ketidakstabilan global, gejolak geopolitik, serta dampak berantai dari perubahan iklim dan krisis energi mendorong perekonomian dunia ke arah yang mengkhawatirkan. Namun, di tengah situasi genting ini, masyarakat diingatkan untuk tidak terperosok dalam keputusasaan atau depresi massal.

Dalam konteks ekonomi makro, resesi terjadi ketika Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara mengalami penurunan selama dua kuartal berturut-turut. Implikasinya meluas: lapangan kerja menyusut, investasi menurun, dan keuntungan perusahaan ikut tergerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa mengarah pada depresi ekonomi yang jauh lebih dalam dan menghancurkan.

Apriyan Sucipto, SH., MH., pemerhati sosial-politik dan lingkungan hidup, menyatakan bahwa saat ini Indonesia harus bersiap dengan langkah-langkah antisipatif, bukan hanya dalam sektor keuangan, tetapi juga dalam ketahanan sosial dan mental masyarakat.

“Dalam sejarahnya, resesi selalu membawa guncangan, namun respons masyarakatlah yang menentukan apakah itu berubah menjadi depresi atau justru titik balik menuju pemulihan,” ujarnya.

Menurutnya, resesi bukan sekadar istilah teknis ekonomi. Dampaknya sangat nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat luas – dari pemutusan hubungan kerja, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga menurunnya daya beli.

Menariknya, kolumnis ternama Sidney J. Harris pernah mengatakan, “Resesi adalah saat tetanggamu kehilangan pekerjaan. Depresi adalah saat kamu sendiri yang kehilangan pekerjaan.” Ungkapan ini menggambarkan bagaimana resesi bisa menjadi masalah kolektif, namun baru terasa mendalam ketika sudah menyentuh ranah pribadi.

Meskipun kondisi global menunjukkan sinyal-sinyal perlambatan, Apriyan mengajak semua pihak untuk tetap berpikir jernih, memperkuat daya tahan ekonomi keluarga, dan mendorong pemerintah agar lebih gesit dalam menelurkan kebijakan yang berpihak pada rakyat.

“Jangan sampai kita terjerembab pada ketakutan berlebihan. Optimisme adalah modal awal untuk keluar dari krisis. Kita pernah melewati masa sulit sebelumnya, dan kita bisa melewatinya lagi,” pungkasnya.

Di tengah akhir pekan ini, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tetap berdoa dan berharap agar para pemimpin bangsa diberi kekuatan dalam memikul amanah serta membuat keputusan terbaik bagi rakyat.

“Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, selalu memberikan kemudahan dan petunjuk kepada para pemimpin negeri ini,” tutupnya.

Loading