Ketika Birokrasi Berubah Jadi Panggung Pemuja Kuasa

Nasional, Opini328 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM (PALANGKA RAYA) – 19 Juli 2026

Oleh: Amar Iswani

Ada perintah yang tidak pernah ditulis tinta. Tidak tercetak di kertas. Namun gaungnya mengalahkan semua regulasi, yakni “utamakan senyum atasan, lupakan keluh rakyat.”

Tujuh kata itu sedang menukar kiblat kita. Dari menghadap masyarakat, menjadi menghadap kursi kekuasaan. Dari mengabdi pada sumpah jabatan, menjadi mengabdi pada selera satu orang. Pelan-pelan, tanpa teriakan, birokrasi kita sedang dibajak.

Yang membuatnya berbahaya adalah pembungkusnya. Ia datang dengan adab. Dengan map rapi. Dengan senyum. Dengan kalimat “demi kebaikan bersama.”

Ia tidak memukul. Ia membelai, sampai tulang kita rapuh. Di lorong-lorong kantor bisikan itu terdengar jelas, yakni, “yang penting beliau senang. Soal pekerjaan belakangan. Soal rakyat, itu urusan nanti.”

Dalam pusaran itu, orang-orang baik menjadi pihak yang paling terluka. Mereka yang masih percaya integritas dipaksa memilih antara dua penderitaan. Menolak, maka kariernya akan dikubur perlahan.

Mengiyakan, maka nuraninya ikut dikafani. Sistem ini sedang memaksa malaikat bekerja untuk kepentingan iblis, lalu menyalahkannya ketika neraka datang.

Dampaknya tidak berisik. Ia sunyi dan sistematis. Proyek penting tertunda karena menunggu restu. Layanan mendesak mengantre karena menunggu jadwal foto. Inovasi mati sebelum lahir, karena berbeda dianggap durhaka. Anggaran publik yang seharusnya untuk rakyat, berubah fungsi menjadi bunga untuk mezbah ego.

Lebih dalam lagi, ia merusak nalar kita. Ia membuat jujur terlihat bodoh. Ia membuat lurus dianggap kaku. Kita sedang mencetak generasi birokrat yang pandai merangkai kata untuk menyenangkan atasan, tetapi gagap ketika ditanya rakyat. Generasi yang hafal cara menunduk, tetapi lupa cara berdiri tegak.

Jika ini dibiarkan, maka kata reformasi akan menjadi dusta. Digitalisasi hanya akan mempercepat penjilatan. Transparansi hanya akan menjadi etalase. Karena selama kompasnya rusak, sejauh apapun kita melangkah, kita tetap akan tersesat.

Untuk memutus rantai ini kita tidak bisa hanya berteriak. Kita harus menyalakan lampu dan mengganti kompas. Selama kinerja masih diukur dari kedekatan, maka kalimat “buat beliau senang” akan tetap menjadi kitab suci di banyak kantor.

Karena itu mari kita kembalikan ukurannya ke tempat semula. Ke kecepatan pelayanan. Ke jumlah pengaduan yang tuntas. Ke tingkat kepuasan masyarakat. Biar data yang bicara, bukan bisikan.

Selama proses promosi masih tertutup tirai, maka selama itu pula loyalitas akan terus diperjualbelikan. Karena itu buka semuanya. Uji secara terbuka. Umumkan secara jujur. Libatkan pihak ketiga. Saat semua mata melihat, maka tangan-tangan yang biasa bermain akan gemetar dengan sendirinya.

Dan kita harus jujur, melawan ini ada harganya. Bisa dijauhi. Bisa dimutasi. Bisa ditenggelamkan dalam sunyi. Karena itu jangan biarkan yang berani berdiri, berdiri sendirian. Kuatkan kanal pengaduan yang bisa dilacak. Libatkan Ombudsman, Inspektorat, dan aparat penegak hukum sejak awal. Lindungi pelapor.

“Terang adalah satu-satunya cara membunuh bayang-bayang. Saat semua proses tercatat dan bisa diaudit, maka ruang untuk pesanan pribadi akan mati dengan sendirinya.”

Pimpinan harus menjadi cermin pertama. Patahkan tradisi Asal Bapak Senang (ABS), ganti dengan istilah Akuntabel, Berintegritas, dan Cepat (ABC). Lakukan evaluasi terhadap mereka yang menjadikan kantor sebagai kerajaan pribadi.

Saya titipkan pesan ini, yakni, “jabatan adalah titipan, bukan mahkota. Gaji adalah amanah rakyat, bukan upah untuk memuaskan satu manusia.”

Kantor bukan istana. Atasan bukan raja. Jika hari ini kita memilih diam karena takut kehilangan, maka kita akan kehilangan jauh lebih besar di masa depan.

“Anak cucu kita kelak akan bertanya lirih. Pertanyaan itu adalah ketika kebenaran masih bisa dipilih, mengapa kalian memilih bertelut?”

Pertanyaan itu tidak boleh dijawab dengan diam. Ia harus dijawab dengan tindakan dan kalimat penutup yang nyata, tegas, lugas dan berani.

Yaitu “kembalikan wajah birokrasi. Dari cermin untuk menyenangkan atasan menjadi jendela untuk melayani rakyat. Sebelum seluruh gedung ini runtuh, hanya karena pondasinya dibangun dari pujian.” (*/Red/PI).

Loading