oleh

Dari Tidak Bisa Menjadi Terampil, Rutan Palangka Raya Tempa Keahlian WBP di Pojok Kreasi

-Daerah-87 Dilihat

PATRAINDONESIA.COM (PALANGKA RAYA)

Rutan Kelas IIA Palangka Raya terus memperkuat program pembinaan kemandirian dengan membentuk keterampilan baru bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP), khususnya di bidang kerajinan pajangan dinding.

Melalui ruang khusus bertajuk “Pojok Kreasi” yang dikelola Subseksi Bimbingan Kerja (Bimker), warga binaan dilatih dari tahap dasar hingga mampu menghasilkan karya bernilai jual.
Program ini difokuskan bagi WBP yang sebelumnya tidak memiliki keahlian tertentu.

Mereka dibimbing mengenal bahan, menggunakan peralatan, memahami teknik dasar, hingga proses finishing. Produk yang dikembangkan antara lain Telawang (hiasan dinding khas Kalimantan berbentuk perisai) dan kerajinan berbahan Getah Nyatu.

Kepala Rutan Kelas IIA Palangka Raya, Wayan Arya Budiartawan, mengatakan pembinaan kemandirian menjadi bagian penting dalam proses pemasyarakatan.

Menurutnya, Rutan tidak hanya menjalankan fungsi pengamanan, tetapi juga pembentukan karakter dan keterampilan.

“Kami ingin memastikan warga binaan yang sebelumnya tidak memiliki keahlian, di sini bisa belajar dan berkembang. Prosesnya bertahap, mulai dari tidak bisa menjadi bisa, bahkan sampai dipercaya untuk berinovasi,” ujarnya, didampingi Kasubsi Bimker Andreas Betrianto.

Salah satu WBP berinisial MK, yang merupakan narapidana kasus narkotika, mengaku sebelum menjalani masa pidana dirinya tidak memiliki kemampuan di bidang kerajinan. Namun setelah mengikuti pelatihan secara rutin di Pojok Kreasi, ia mulai memahami teknik pembuatan Telawang dan pengolahan Getah Nyatu.

“Awalnya saya sama sekali tidak bisa. Pegang alat saja belum pernah. Tapi setelah dibimbing, sekarang saya sudah bisa membuat sendiri dan ikut mengerjakan pesanan,” ungkap MK.

Hal serupa disampaikan AR, WBP lainnya yang juga terlibat dalam program tersebut. Ia menuturkan bahwa kegiatan di Pojok Kreasi memberinya pengalaman baru sekaligus rasa percaya diri.

“Dulu saya tidak punya keterampilan apa-apa. Di sini diajarkan dari dasar. Sekarang saya dipercaya untuk mencoba desain baru dan membantu teman-teman yang masih belajar,” kata AR.

Menurut pihak Rutan, kepercayaan untuk berinovasi diberikan kepada WBP yang menunjukkan kedisiplinan dan keseriusan selama mengikuti pembinaan. Selain melatih keterampilan teknis, program ini juga menanamkan nilai tanggung jawab, kerja sama, dan ketekunan.

Hasil karya WBP dipasarkan melalui pameran UMKM maupun media sosial. Sepanjang 2025, program pembinaan kemandirian tersebut tercatat memberikan kontribusi terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sekitar Rp12 juta.

Wayan menegaskan, capaian tersebut bukan semata soal angka, melainkan bukti bahwa pembinaan yang konsisten mampu mengubah individu tanpa keahlian menjadi pribadi yang produktif.

“Harapan kami, ketika mereka kembali ke masyarakat, mereka sudah memiliki bekal keterampilan yang bisa menjadi jalan hidup baru,” tutupnya. (*)

Loading